Tuesday, January 05, 2010

Duren


Aku terlahir dari keluarga yang semuanya penggemar buah berduri ini.
Dan ternyata takdir mempertemukan saya dengan suami yang tidak suka dengan duren. Jangankan mencicipinya, baunya saja sudah tidak tahan :)
Bagusnya, dia tidak pernah melarang aku untuk membeli maupun makan duren. Dia menghargai selera saya yang satu ini. Jadi saya pun menghargainya dengan membatasi konsumsi durian di depannya. Padahal, duren itu paling enak dimakan rame-rame, sambil nduliti yang tersisa dan lengket-lengket di kulitnya, seperti dulu yang dilakoni oleh kami lima bersaudari (karena perempuan semua).

Kadang-kadang ketika aku makan durian, blio nyoba nyicip-nyicip dikit. Mmm.. mulai bisa menerima aromanya. Setelah itu mulai bisa menerima rasanya juga. Lama-lama doyan juga, meskipun nggak yang sampai pada tahap seperti aku. At least bisa bilang kalau duren itu enak, beda dengan aku yang bilang duren itu ennnakkk banngett. Tapi tetep...belum seasyik waktu makan duren berlima.


Ternyata eh ternyata,  mbarepku, Ifah mewarisi selera ibunya. Jadi sekarang, aku sudah dapat soulmate untuk urusan makan duren ..

--gambar ngambil dari sini

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Cinta Tanpa Syarat

Bunda mencintaimu anakku
Bunda menyayangimu anakku
Segenap hati dan pikiran tercurah hanya untukmu
Selaksa harap dan cita, bunda lukiskan untukmu

Masa berganti
hari berbilang ... bulan berlalu .. bilangan tahun menghampiri ...

bayi mungil bermata bening
baru kemarin bunda menimangmu
kini tapak kakimu mulai tegak melangkah

lekas besar anakku ...
jadilah hamba yang tunduk pada Penciptanya
jadilah hamba yang membawa manfaat untuk semesta


kota lumpia, januari 2010

by: husna m



"hidup ini indah, maka syukurilah"