Friday, February 15, 2008

After the Day

Aku pikir....Saat kehilangan itulah, saat yang terberat
Tapi ternyata...
saat-saat setelah kehilangan terasa menyayat.........
Terkadang hati ini menggugat......
meskipun tersadar bahwa tak mungkin yang talah pergi akan kembali...
meskipun sadar sepenuhnya........bahwa tak ada milik kita yang abadi.....
Tak ada kekuasaan yang mampu menandingi Kekuasaan-Nya....


Thursday, February 14, 2008

Ketemu Ibu Dosen

Biasanya, umi termasuk yang mengandalkan jasa antar jemput sekolah, juga jasa angkot untuk keperluan pulang sekolah anak-anak yang tentunya didampingi pengasuhnya.
Nah, siang ini, berhubung batuk pilek si bungsu masih belum beres, malah ada kecenderungan tidak baik, rencananya sepulang sekolah langsung ke poliklinik. Jadilah siang ini si bungsu berkesempatan dijemput uminya.
Sampai di sekolah, ada seorang Ibu yang juga sedang menjemput putranya. Kata pengasuh anak saya, biasanya yang antar dan jemput anak tersebut eyang kakungnya. Pantas kalau umi tidak pernah bertemu di pagi hari ketika mengantar anak-anak berangkat sekolah.
Perasaan, Umi kok familiar dengan wajahnya, tapi siapa ya....Duh...ini penyakit jelek umi, hapal wajah tapi nggak hapal nama. Sejurus kemudian ingat deh, lha beliau kan dosen umi waktu kuliah. Namanya Ibu Mariana. Dulu ngajar mata kuliah apa ya ??? Dah lupa ..... udah 4 atau 5 tahun lalu (eh iya...umi tuh kuliah sambil kerja, jadi duluan kerja, baru kuliah. Waktu kuliah sempat 2 kali hamil, tapi tetep nekat nerusin kuliah)
Kalau nggak salah ya...beliau ngajar di sekitar manajemen lah.
Dulu, beliau ini termasuk dosen yang ditakuti sama mahasiswa, karena beliau tegas, dan terkesan dingin terhadap mahasiswa. Tapi waktu umi jadi mahasiswanya, ya...biasa-biasa aja sih. (Apa karena kalau dikantor banyak yang lebih galak ya??) Menurut Umi sih beliau baik, at least, kooperatif. Soalnya, waktu itu, Umi pernah minta dispensasi ikut ujian susulan, plus tugas tambahan, karena Umi bolos beberapa hari waktu melahirkan. Iya lho...4 hari setelah melahirkan Afra, Umi sudah ke kampus lagi. Lha Afra lahir pas umi nya lagi ujian SP.
Dan sekarang....anak bu Dosen, sekelas sama Alizza. Kita bakalan sering ketemu nih Bu.


Thursday, February 07, 2008

Hari-hari terakhir Bersama Bapak (part4-last)

Jumat, 25 Januari 2008
Tak pernah ada dalam sangkaan maupun perkiraan kami, bahwa ini adalah hari terakhir kami bersama Bapak.
Pagi-pagi, karena dapat kabar kalau hari ini mba Wik mau pulang dulu ke Wonosobo, umi segera berangkat ke Pekalongan lagi, pakai kereta jam setengah sembilan. Sampai di rumah sakit, dah nggak ketemu mba Wik. Cuma ada Ibu, Fitri dan Mba Rina. Hari itu Bapak lebih banyak diam, nggak banyak berkata-kata kalau tidak perlu. Tapi beliau masih berkomunikasi dengan baik. Dari pagi sampai sore, silih berganti tamu berdatangan. Hari ini hampir semua teman Ibu, hadir. Pasalnya, Jumat pagi mestinya kan acara Olahraga pagi. Nah, pagi itu, berhubung Ibu absen, dan keterangan absennya nungguin suami di RS, jadilah semua rekan kerjanya berduyun2 datang menjenguk.
Tadi pagi, kata Ibu, alhamdulillah, Bapak bisa makan lumayan banyak, semangkuk soto dan sebutir telur, menu dari RS habis disantap. Makan siang juga lumayan, sayur semangkuk, beberapa sendok bubur dan sepotong tahu, berhasil masuk dengan selamat. Makan siang, bapak masih bisa duduk sendiri.
Melihat perkembangan ini, kami optimis, bapak akan segera pulih.
Sore hari, masih banyak tamu, ada Lek Sil dan Lek Karim, lalu ada Mas Lutfi, sepupu, juga ada bu Lidya (teman Ibu) dan suaminya. Sampai maghrib, mereka baru pamitan pulang.
Sore itu, Bapak minta mba Rina untuk pulang, karena khawatir dengan Ainun(anak bungsu mba Rina) yang sejak pagi ditinggal. Maklum, Ainun kan masih ASI, jadi Bapak nggak tega kalau Ainun ditinggal kelamaan karena uminya nungguin di RS. Berhubung suaminya belum juga jemput, mba Rina belum jadi pulang. Menjelang maghrib suaminya baru datang. bapak segera menyuruh pulang. Akhirnya setelah shalat maghrib, mba Rina pulang. Mbak Nung dan Mas Arif datang, bawa makan malam. Umi, Ibu, Fitri duduk-duduk di kamar. Selepas shalat Maghrib, Fitri tilawah disamping bapak yang kembali tidur setelah selesai shalat. Umi dan Ibu duduk sambil memandang Bapak, membicarakan perkembangan kondisi Bapak. Meskipun optimis karena hari ini sudah mau makan cukup banyak, kami masih tertegun dan agak heran dengan kondisi Bapak yang selepas Maghrib menajdi sangat lemas. Bahkan untuk duduk pun , membutuhkan bantuan. Saat itu, umi perhatikan, wajah Bapak tampak lebih gemuk dan putih. Umi pikir, ini akibat pemberian infus selama tiga hari. Belakangan, baru tersadar, mungkin saat itu sebenarnya pertanda bahwa bapak akan "pergi".
Ibu baru bersiap akan makan malam ketika bapak memanggil, minta disuapi makan malam. Dan Alhamdulillah, seperti halnya makan siang, makan malam ini pun lumayan banyak yang bisa masuk. Bahkan satu buah pisang ambon habis. Malah Bapak minta pisang lagi. Kebetulan ada yang jual pisang rebus di teras RS. Segera umi beli 4 buah. Tapi ternyata Bapak penginnya yang pisang ambon lagi. Bergegas umi dan fitri keluar untuk beli pisang. Di halaman, ketemu dengan Bu As & pas As, serta Om Har yang mau menjenguk Bapak. Bu As bilang kalau beliau bawain bakmi buat makan kami. Duh..Makasih banyak Bu.
Udah muter-muter semua toko n warung sekitar RS nggak ada yang jual pisang, akhirnya kami kembali ke RS. Di kamar, Bapak di tempat tidur ditemani Ibu. Sedangkan Om Har, bu&pak As, mengelilingi tempat tidur sambil berbincang-bincang. Bapak tidak banyak bicara, hanya menjawab ketika ditanya. setelah itu lebih banyak memejamkan mata.
Karena pisangnya nggak ada, Mba Nung dan mas Arif keluar pakai motor untuk cari di pasar buah. Umi dan Fitri masih duduk-duduk di sofa di dalam kamar.
Kemudian, Bu As memersilahkan Ibu untuk makan bakmi yang bliau bawakan. Ibu bilang iya, sebentar lagi. Trus bapak minta Ibu untuk makan dulu bakmi yang sudah dibawakan bu As. Ibu lalu bilang, lho, bapak nggak tidur tho. Kirain Bapak tidur. Dijawab bapak "nggak".
Sejurus kemudian Bapak minta disuapi anggur, kemudian minta air putih hangat.
Tidak lama, hanya hitungan menit setelah minum, tiba-tiba Bapak anfal. Saya dan om Har segera berlari ke ruang suster yang berada tepat di sebelah kamar Bapak. Saat itu, Ibu terus memanggil-manggil Bapak, Pak As terus berada di samping Bapak, dan Bu As terus melafalkan "Laa ilaaha illa Allah", seorang bapak keluarga pasien di kamar sebelah, berlari masuk kamar dan melafalkan ayat-ayat suci Al-Quran, bersamaan dengan perawat memasang alat bantu pernafasan dan memeriksa kondisi Bapak, yang ternyata sudah menghadap Illahi.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji'un. Ibu menangis, kami semua menangis. Sungguh tidak kami sangka-sangka, Bapak yang beberapa menit lalu masih bisa berbicara pada kami, tiba-tiba meninggalkan kami. Lalu Ibu pun jatuh pingsan. Ya Allah....betapa kehilangan ini terasa sangat pedih....
Sekalipun kami sadar bahwa ini ketentuanMu, namun ijinkanlah kami untuk tetap menangis, meluruhkan rasa perih di hati ini. Ibu berulang kali pingsan. Sadar sejenak, lalu pingsan lagi.
Teringat akan cita-cita bapak untuk menunaikan ibadah haji, yang sudah dibuktikannya dengan mendaftarkan diri di Depag, yang tidak dapat dituntaskannya, hati ini semakin pedih.
Ya Allah...ampuni kami jika sempat kami menyesali keputusanMu.
Ya Allah...semoga ayah kami datang menemuiMu dengan husnul khotimah.
Ampuni Ayahanda kami Ya Allah...
Umi segera menghubungi Abi dan anak-anak untuk segera meluncur ke pekalongan. Umi juga menghubungi Mba Wik, melalui suaminya. Sungguh tak kuasa bibir ini menyampaikan kabar duka ini kepada mbaWik. Mas Arif menghubungi keluarga besar. Om Har dan Pak As menyelesaikan segala urusan terkait dengan pemulangan jenazah. Semuanya berjalan dengan sangat cepat. umi bahkan masih setengah antara sadar dan tidak, bahwa Bapak telah benar-benar "pergi" untuk selamanya.
Segera saja, keluarga Wak Dah (kakak bapak) datang, juga beberapa tetangga, membantu kami berkemas, membersihkan seluruh barang-barang, dan mengantarkan kami pulang. Dari pihak rumah sakit pun , memberi keleluasaan pada kami untuk menyelesaikan administrasi setelah selesai masa duka.
Beriringan kami pulang. Saya sudah tidak ingat betul, dengan siapa saja kami pulang. Sampai di rumah, tenda sudah dipasang, kursi-kursi juga sudah ditata. Ya Allah...hati ini seperti teriris. Inikah tenda perkabungan itu ?
Meskipun sadar, bahwa setiap saat hal ini akan terjadi, tapi tak terbayangkan lara hati ketika akhirnya ini benar-benar terjadi.
Menyaksikan keluarga besar berdatangan, juga teman-teman Bapak dan Ibu yang malam itu datang bertakziah, umi kembali teringat bahwa baru beberapa jam lalu, mereka berbincang-bincang dengan Bapak. Bahkan tamu-tamu yang datang menjenguk bapak sore itu, seakan tidak percaya jika bapak pergi, hingga malam itu, mereka menyegerakan datang untuk memastikan kebenaran berita yang mereka terima.
Ya Allah...tiada yang dapat menolak KetentuanMu, tiada yang dapat menunda kematian walau hanya sesaat.
Bimbing kami Ya Allah..untuk ikhlas menerima ketentuanMu.

Hari-hari terakhir Bapak (part3)

Rabu, 23 Januari 2008
Pagi-pagi, umi berangkat ke pekalongan, pakai kereta yang jam 6. Jam delapan sudah sampai di rumah sakit. Bapak terbaring di tempat tidur, ditemani ibu, mba rina dan mba nung. Mba nung dipersilakan pulang dulu, secara semalaman bliau dah nginep di RS, tapi masih pengin nunggu di RS. Maunya anak-anak, Ibu juga dipersilakan pulang, biar istirahat, tapi bapak nggak mau. Bapak penginnya ada Ibu selalu.
Tapi akhirnya agak siangan, Bapak kasih ijin Ibu untuk pulang, diantar mbak Nung. Tinggal aku dan mba Rina yang nungguin. Bapak masih merasa perih di perut, tapi kondisinya masih baik. Untuk ke kamar mandi, bapak masih bisa sendiri, nggak perlu dituntun. Waktu ada yang nengok pun, Bapak masih bisa menemui dengan duduk. Hari itu banyak sekali yang bezuk Bapak. Siangnya, mbak Wik, kakak sulung umi, datang beserta suami dan anaknya yang nomer tiga. Bapak seneng banget mba Wik datang, secara udah ditunggu-tunggu banget sama Bapak. Kata Bapak, semenjak bapak mulai sakit kok nggak datang-datang.
Siang itu, kami semua, anak2 dan menantu2, sepakat untuk berupaya maksimal memindahkan bapak ke kamar yang layak. Alhamdulillah, ada teman yang bisa membantu mengupayakan kamar (di RS Pemerintah, kita mesti gerilya sendiri cari kamar). Pasalnya, di kamar yang ini, Bapak bener2 nggak bisa tenang istirahat, maklum, lokasinya yang di jalur masuk, membuat lalu-lalang orang sedemikian ramainya.
Akhirnya dapat juga kamar, tapi baru bisa ditempati setelah maghrib.
Selesai maghrib, bapak dipindah kamar. Alhamdulillah, kamar yang ini lebih lapang, dan posisinya tidak di tempat lalu lalang orang. jadi Bapak bisa istirahat dengan lebih baik. Tamu masih terus menerus datang. Subhanallah, inilah buah dari rajinnya bapak menyambung silaturahmi. Ketika beliau sakit, semua kawan dari berbagai kalangan datang membezuk. Umi sempat khawatir kalau beliau kecapekan.
Malamnya, Fitri (adik bungsu umi) datang dari Solo. Dia baru tahu kalau Bapak sakit. Sengaja kami belum beritahu kemarin, karena hari ini hari terakhir dia ujian semesteran, khawatir terganggu. Akhirnya malam itu, kami, umi, Ibu, mba Wik dan aku, rame-rame nginep di rumah sakit. Bapak sendiri, beberapa kali masih terbangun menahan sakit. Kali ini perihnya sudah lumayan, tapi masalah barunya, perut Bapak terasa kembung. Mual-mualnya masih. Tapi udah nggak ada yang dikeluarkan lagi. Lha wong makanan aja nggak ada yang masuk, apanya yang mau dimuntahin ya...
Hasil lab terbaru, gula darah masih agak tinggi, trus ada radang di lambung. Lha ini yang agak berat, berhubung bapak punya diabetes, praktis, tidak mudah untuk menyembuhkan radang di lambung tersebut. Jadi kata dokter, konsentrasinya sekarang adalah menurunkan kadar gula ke angka normal, setelah itu barulah obat bisa diberikan.

Kamis, 24 Januari 2008
Pagi-pagi lagi, jam setengah enam, umi pamitan pulang ke semarang dulu, nengok anak-anak. Bapak masih bisa melepas aku pamit.
Di jalan ketemu teman yang tinggal di Pekalongan, tapi dinas di Semarang. Karena beliau juga kenal baik dengan Bapak, jadilah obrolan di kereta sepanjang perjalanan diantaranya membahas tentang Bapak. Sampai di Semarang jam setengah delapan, langsung ke rumah. Seharian di rumah, tapi pikiran kemana-mana. Monitor terus kondisi Bapak via telpon.


Hari-hari terakhir Bapak (part2)

Selasa, 21 Januari 2008
Selasa pagi, badan ini rasanya kok masih nggak beres juga. Meskipun kemarin sudah diberi obat dari dokter, dan sudah diminum 3 kali (siang, malam, trus pagi lagi). Padahal udah dapat ijin untuk ke Pekalongan hari ini. Bingung mau naik apa. Kalau naik kereta yang jam 6, duh..apa bisa ninggalin anak-anak jam segitu. Bisa bikin perang dunia nih, bangun tidur udah ditinggal sama Uminya. Yo wis lah..berangkat pakai kereta yang jam 9 aja. Rencananya naik motor, trus motornya dititipin di stasiun, supaya nanti sore gampang pulang dari stasiunnya. Kan rencananya sore langsung pulang ke semarang lagi, nggak nginep. Ternyata keretanya bukan jam 9 tapi jam setengah sembilan. Umi sampai stasiun jam 08.40, dan ketinggalan kereta deh...Akhirnya tuh motor tetap dititipin di stasiun, lha uminya naik becak disambung bis kota ke pangkalan bis terdekat. Weis..jadi muter-muter nih. Udah gitu pakai acara kunci motornya ketinggalan, masih nempel di motor. Beruntung pak penjaga penitipan motornya baik banget, kuncinya dia susulkan. Untung aja becak yang umi tumpangi belum jauh dari stasiun.
Sampai di pangkalan bis, trus beli tiket, dan..bis baru berangkat jam 09.35. Tapi masya Allah...jalannya pelaaaaannn banget. Waduh..rasanya kok pengin protes ke supirnya...
Walhasil jam setengah duabelas lebih baru sampai di pekalongan. Dijemput mbak nung di terminal, langsung ke rumah.
Ketemu Bapak sama Ibu. Ibu hari ini cuma ke kantor sebentar. Ngobrol-ngobrol sama bapak, terutama mbahas rencana umroh umi&abi. Ceritanya kan Abi dapat penghargaan umroh dari kantor. Alhamdulillah.
Makan siang, Bapak masih belum bisa masuk makanan. Muntah lagi. Bapak kepengin cin-cau. Jadilah aku sama mba nung, nyari di tempat penjual es campur. Beli isinya es campur doang, ada cincau, pepaya, sama roti. Sirupnya pake sirup sendiri, kan Bapak diabet. Di rumah, isiannya dikasih sirup sama air hangat. Baru diminum sesendok, Bapak udah mual lagi. Duh Gusti....sembuhkanlah ayah kami...
Opsi masuk rumah sakit mulai dipikirkan, berhubung sejak hari jumat sampai selasa, tidak ada makanan yang bisa masuk sedikitpun.
Opsi lainnya, diinfus dirumah, untuk mengganti cairan yang hilang.
Umi dan mba Nung ke apotik, beli pedialyte, sejenis cairan elektrolit. Biasanya umi pakai ini sebagai pertolongan pertama kalau anak-anak diare.
Lumayan, dua gelas bisa masuk. Sore setelah itu masuk juga entrasol, 1 gelas. Tapi efeknya, malah bab-nya cair. Ya Allah...sungguh..kesembuhan hanyalah dari-Mu. Karena itulah, hanya kepadaMu kami bermohon.
Sore jam 5, umi pamitan pulang. Sebetulnya pengin nginep. tapi kan pamitnya sama abi&anak-anak cuma sampai sore aja.
Jam 18.45, sampai di rumah dengan selamat.
Jam 8 malem, mba nung telp, kalau Bapak masuk RS. Sebetulnya dokter tidak memerintahkan untuk masuk, tapi Bapak yang menghendaki malam itu juga masuk RS, karena sudah tidak tahan dengan rasa nyeri di perutnya, juga lemas karena kekurangan cairan. Yang ada di rumah Ibu, mba Nung dan mba Rina. Bertiga bingung dengan permintaan Bapak, apalagi sudah malam. Akhirnya dengan diantar Om Edi, tetangga, akhirnya Bapak diantar Ibu dan mba Nung, pergi ke tempat praktek Dr. Kusnanto. Selama ini Bapak rutin kontrol diabet ke beliau. Dari sana, bapak minta rujukan ke RS. Bapak, Ibu, Om Edi langsung ke RS. Mbak Nung balik ke rumah ngambil baju. Aku cuma bisa terus monitor lewat telpon, sambil telpon telpon ke agen travel, nyari travel yang masih ada untuk ke pekalongan. Tapi hasilnya nihil, udah nggak ada kendaraan ke pekalongan. Agen bis juga udah tutup. Ya Allah..padahal Abi masih di Boja, ada acara Outbond. Umi coba kontak, acara nya sampai jam 10 malam baru selesai. Umi telpon mbak Nung lagi, bapak udah dapat kamar, sementara seadanya, sambil nunggu kamar yang lebih baik ada yang kosong. Umi shalat, menghaturkan untaian doa untuk kesembuhan Bapak. Seumur hidup, Bapak itu orang yang pantang mengeluh, termasuk tentang penyakitnya. Ketika kali ini beliau sampai minta untuk ke RS, pastilah rasa sakit itu teramat sangat...Maafkan saya Pak, yang tak bisa langsung menemani malam ini.

Sunday, February 03, 2008

Hari-hari Terakhir Bapak di Rumah

Kamis, 16 Januari 2008
Pagi-pagi di kantor, tiba-tiba pengen banget telepon Bapak. Telpon ke HPnya, langsung bapak sendiri yang terima. Tanya-tanya kabar di rumah, katanya semua baik-baik saja. Lalu cerita tentang anak-anak, tentang Alizza. Setelah itu cerita tentang seleksi penghargaan umroh dari perusahaan yang diikuti Abi. Trus minta didoakan supaya berhasil.

Jumat, 17 Januari 2008
Ada SMS dari Mba Nung, kakak Umi yang nomer tiga, nanyain kapan mau nengok Bapak. What!!! Bapak sakit ??? Sudah sejak Rabu, bapak nggak berangkat kantor. Masya Allah...hampir nggak percaya, lha kemarin waktu Umi telpon katanya nggak apa-apa. Duh...kok ya Umi bisa nggak tahu...

Sabtu, 18 Januari 2008
Karena Abi ada kerjaan, rencana nengok Bapak ditunda besok pagi. Yo wis lah...meskipun berat hati, Umi nurut juga. Habis mau gimana ? Kalau Umi berangkat sendiri tanpa suami, biasanya Bapak juga nggak terlalu berkenan. So...telpon lagi..tanya-tanya gimana kondisinya.
Yang dirasakan Bapak, perutnya perih dan mual. Setiap masuk makanan, pasti muntah. Udah dipanggilkan dokter, katanya mag. Sudah dikasih obat. Tapi keluhannya masih berlum berkurang. Bapak jadi nggak mau makan. Padahal biasanya dalam kondisi sesakit apapun, Bapak pasti mau makan, meskipun sedikit. Prinsip beliau, penyakit itu harus dilawan dengan kondisi tubuh yang bagus, caranya ya harus mau makan.
Umi diskusi panjang sama mba Nung, tentang kemungkinan untuk dibawa ke RS saja, kalau sampai besok kondisinya tidak membaik

Minggu, 19 Januari 2008
Jam 8 pagi, berangkat ke rumah Bapak. Pasukan lengkap dibawa semua. umi , Abi, trio Afifah, dan duo asisten. Sekitar 2 jam perjalanan, kami sampai di sana. Ketemu Bapak sedang tiduran di kamar. Duh...tampak lemes banget. Jadi nggak tega...
Tapi Bapak masih berusaha untuk bangun dan duduk di kursi tamu, sambil nemenin cucu-cunya main-main di ruang tamu. Seperti biasa, kalau kami kumpul, Bapak pasti jadi semangat. Wajahnya juga tampak sumringah. Tapi perkara makanan, tetap saja belum bisa masuk juga. Meskipun begitu, Bapak masih semangat ngajak ngobrol macam-macam.
Kami nggak nginap. Sore itu juga langsung kembali ke rumah.

Senin, 20 Januari 2008
Seperti biasa, Umi berangkat ke kantor. Anak-anak masih libur semester. Baru senin depannya mereka masuk sekolah. Sebelum ke kantor Umi mampir ke Klinik kantor dulu, badan rasanya nggak enak, kayak mau flu. Eh..beneran, ternyata ada sedikit peradangan di tenggorokan. Pantes aja, badan kok agak meriang. Dokter ngasih saran untuk istirahat di rumah. Dari Klinik dibekalin obat dan surat ijin sakit untuk 2 hari. Niatnya ke kantor sebentar, beresin kerjaan dan delegasi ke teman yang lain selama Umi istirahat di rumah. Eh..sampai kantor Pak Bos malah ngajak rapat. Kirain sebentar, tahunya sampai sore. Padahal kepala udah berat, badan juga udah nggak karuan rasanya. Udah gitu kepikiran kondisi Bapak.
Finally, sore jam 5 pulang ke rumah, istirahat. Telpon ke Mba Nung, tanya kondisi terakhir. Tidak lebih baik. Sudah tes lab, hasil lab malah menunjukkan gejala tipus. Waduh....kok jadi gini ya..Kemarin udah agak curiga sih, soalnya, waktu sore-sore mau pulang, badan bapak kok agak panas. Perasaan jadi nggak enak banget. Ya udah..minta ijin ke Abi, besok mau berangkat sendiri nengok Bapak. Naik kereta aja, biar cepet.



KABAR DUKA ITU....

INNALILLAHI WA INNA ILAIHI ROOJI’UUN

Telah berpulang ke Rahmatullah,

Ayahanda kami tercinta,

Bapak ABUBAKAR MACHFUD

Pada hari Jumat tanggal 25 Januari 2008 pukul 20.30 wib , pada usia 59 tahun 11 bulan 2 hari

Ya Allah…

Ampunilah dosa ayahanda kami..

Terimalah taubatnya…

Terimalah seluruh amal baiknya…

Luaskanlah dan terangkanlah kuburnya

Jauhkanlah dari adzab kubur-Mu

Lapangkanlah jalannya menuju Syurga-Mu

Ya Allah…

Karuniakanlah kami kesabaran

Dalam menghadapi musibah…

Jadikanlah kami hamba yang senantiasa ikhlas menerima Takdir-Mu

Jadikanlah kami anak-anak keturunannya, tetap dalam iman dan islam

Jauhkanlah kami dari fitnah sepeninggalnya..

Amiin yaa Robbal 'aalamiin

Friday, January 12, 2007

Berenang di Wonosobo

Mbak Afra tuh paling sulit disuruh mandi kalo di rumah. Adaaaa.....aja alasannya. Tapi kalo diajak berenang...he..he.. gak perlu ditanya dua kali, pasti langsung mau. Udah itu, tidak mau juga keluar dari kolam, meskipun sudah gelagepan kayak gini.

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Monday, November 13, 2006

Minggu Memasak

Ahad, 12 November 2006

Ada aturan tak tertulis untuk hari Minggu bahwa belum lengkap rasanya kalau hari minggu kok umi tidak masak.
Jadilah pagi-pagi sudah belanja ke mbak penjual sayur dekat rumah. Berhubung hari ini penginnya bikin Soto, mendoan goreng, dan juga pengin bikin Putu Ayu (gara-gara baca blognya dapur bunda dan lihat foto putu ayu..jadi ngiler...), bahan-bahannya agak beragam. Dan ternyata nggak semuanya ada, so mau tidak mau harus ke pasar deh. Yang sudah ada ayam, tomat, soun, daun bawang seledri, tauge, cabai. Yang belum ada serei, jahe, bawang merah. Itu yang untuk soto. Yang untuk kue, kelapa parut, cetakan putu ayu, telur, daun pandan. (ye…itu mah namanya belum satu pun bahan ada )
Setelah dapat semuanya segera pulang. Sebelumnya mampir juga beli mangga 3 kilo. Seger.....
Sampai rumah.....waduh...cetakannya ketinggalan di pasar. Terpaksa deh balik lagi ke pasar. Duh..nasib...
Kembali ke dapur. Ayam sedang direbus. Bumbu-bumbu sudah dihaluskan, ditumis sebentar sampai harum, trus dimasukkan ke air rebusan. Hemm...baunya.....sedappp.....
Bahan-bahan penyerta juga sudah disiapkan. Yup...Soto lezat dan nikmat silahkan dinikmati. Tidak lupa disiapkan juga sepiring penuh mendoan goreng yang masih anget ngepul-ngepul.
Masakan selanjutnya kue putu ayu. Resepnya dapat dari Blog nya Dapur Bunda. Kocok-kocok, aduk-aduk, tuang ke cetakan, kukus sebentar dan yummyy....ennnakk betul. Kukusan pertama 12 biji langsung ludes. Tinggal nunggu yang kedua.
Lalu..selesailah acara masak pagi ini. Kemudian si tukang masak pergi dulu takziah dilanjutkan dengan ke acara walimah.
Pulang dari walimah, kue putu ayu tinggal beberapa biji. Trus di kulkas masih ada sisa santan yang tadi dipakai bikin kue. Dari pada mubazir tuh santan, enak kali ya kalau bikin kue lagi. Jadilah siang itu bikin kue lagi. Idenya masih dari putu ayu karena bahannya juga sama hanya minus kelapa parut. Warnanya nggak lagi ijo (males mau numbuk daun pandan lagi). Kal ini kuenya Bolu Zebra Kukus. Nyummyyy....Ennaak....
"hidup ini indah, maka syukurilah"

Takziah Eyang Putri Nora

Ahad 12 November 2006

Minggu pagi dapat sms dari Tyash. Isinya Kabar duka. Telah meninggal dunia eyang putri dari Nora. Segera telpon Tyash dan dapat info kalau jenazah akan diberangkatkan ke magelang jam 11 siang. Ke magelang ??? Yup karena ternyata almarhumah pernah berwasiat demikian.
Padahal rencananya pagi ini jam 10 mau ke walimahnya Bu Mei, ibu gurunya Afra. Wah.....perencanaan waktunya agak susah ini karena lokasinya berjauhan dan beda jalur pula sementara waktu pelaksanaannya berdekatan. Diputuskan, ke Nora dulu pagi-pagi setelah itu baru ke Bu Mei.
O iya...pagi ini juga rombongan kampung belakang juga berangkat piknik. Yah...melapas dulu sebentar, kemudian belanja ke mbak penjual sayur. Emm....rencana hari ini menunya soto banyumas dan kudapannya Putu Ayu. Tapi beberapa bahan di si mbak tidak lengkap. Terpaksa deh ambil motor dan pergi ke pasar. Pulang dari pasar...uplak-uplek sebentar dibantu para asisten. Jadi deh sepanci soto, sepiring besar dan penuh mendoan goreng, serta 25-an biji Putu Ayu dapet nyontek resepnya Bunda Zidan (alm). Makasih ya Bun.
Siap-siap ke tempat Nora, dan insiden kecil terjadi. Afra nggak mau ditinggal. Setelah dengan segala bujuk rayu termasuk dari Abinya nggak mempan akhirnya jurus pamungkas juga yang digunakan. Tutup pintu...dan kabur...meninggalkan Afra yang masih meraung-raung.
Sampai di rumah Nora...sudah ramai ibu-ibu yang sedang baca tahlil. Ada juga Bapak dan Ibunya Nora. Lalu ada Tyash, Pamuji, Mul double, maksudnya dua orang namanya Mul semua, juga teman-teman kuliah Nora.
Tidak lama berselang, datang Wiwid en Amin, disusul Mas Budi en Mba Ani beserta dua junior.
Nora masih sembab....sedih ya Non. Melalui hari-hari berdua dengan mbah Putri, kemudian tiba-tiba sekarang beliau pergi. Duh....yang sabar ya Sist.
Nora berkisah betapa gugupnya dia menghadapi mbah putri yang mendadak kena serangan jantung. Saking gugupnya dia sampai tidak telpon utk minta ambulan tapi pergi ke RS memesan ambulan. Bahkan untuk menelpon salah satu diantara kami pun tak sempat ia lakukan. Sungguh....maafkan kami Sist....
Sayangnya tak sempat cukup lama di sana. Doa kami untuk mbah Putri. Semoga Allah berikan tempat yang lapang di sisinya. Amin.



"hidup ini indah, maka syukurilah"

Halal bi halal RT 02 RW 8

Sabtu 11 November 2006

Undangannya sih jam 18.30. Dan tidak seperti biasanya kali ini kami (umi, abi, afra, ifa) datang tepat waktu banget. Hasilnya....belum ada siapa-siapa di lapangan badmintor tampat acara diselenggarakan, selain karpet-karpet dan tikar yang sudah tergelar. Ya sudahlah...duduk manis saja sambil menunggu yang lain datang.
Acara tahun ini diselenggarakan dengan sederhana. Duduk lesehan melingkar sambil mendengarkan sambutan dari pak RT dan pak Ketua Panitia. Dilanjutkan dengan tausiyah dari Pak Rusnadi, ustad di lingkungan RT juga. Tahun ini tidak ada ustad dari luar yang diundang. Kali ini juga tidak ada lontong opor apalagi lontong sate. Sebagai gantinya ada ada dus isi kue tiga macem plus air minum kemasan dalam gelas. Alhamdulillah.
Mau tau isi sambutan-sambutan dan tausiyahnya? He..he.. pada intinya dalam rangka meningkatkan silaturahmi dan semangat kekeluargaan di lingkungan RT 02, dihimbau kepada seluruh warga untuk rajin mengikuti kegiatan yang dilakukan oleh RT. Misalnya kerja bakti (hayooo..siapa yang suka bolosss...), pengajian, tahlilan, arisan bapak-bapak (hayo..siapa juga yang suka bolosss...he...he...).


"hidup ini indah, maka syukurilah"

Konsul ke Dokter

Minggu lalu sudah batal ketemu dokternya. So..sabtu ini harus disempatkan ketemu beliau. Alhamdulillah beliau hari ini hadir. Minta tolong ke resepsionis untuk dijadwalkan ketemu. Grgrlkllkjiujhh........ Ushh......malah gak juga bisa ketemu. Begitulah tipikal pelayanan umum di sini.
Walhasil, ketika ketemu dengan Mr Dokter di lorong, langsung dicegat aja deh. Dan beliau sih oke-oke aja ditembak di tempat. Tuh..kan mbak resepsionis...Pak Dokternya aja nggak marah kok di tembak di jalan gitu. Akhirnya kita ngobrol di ruang OT. Berhubung Aliza nya bobok, ya uminya saja deh yang mewakili.
Sesuai rencana, kita mau bahas hasil EEG nya. Hemmm....tidak terlalu menggembirakan kata beliau. Artinya terapi masih harus tetap jalan. Secara teori memang banyak loncatan –loncatan elektris yang membuat ada beberapa fungsi yang tidak berjalan dengan semestinya. Obat-obat dari neurolog sudah cukup. Beliau tidak tambah obat lagi. Umi sempat curhat juga dan nanya pilihan terbaik apakah tetap ke neurolog atau pediatric tumbuh kembang.
Curhat juga betapa khawatirnya umi sebagai ibunya jika tidak bisa memberikan upaya maksimal untuk pemulihan Alizza. Juga tentang apa yang disampaikan oleh dokter syaraf anak yang kami kunjungi yang sungguh kalimat-kalimatnya membuat kami ”patah hati”. So..komentar beliau, apa yang sudah umi lakukan selama ini, pemeriksaan yang dijalani untuk aliza, semuanya sudah lengkap. Yang harus dilakukan sekarang adalah tetap rajin menjalani terapi yang sudah diprogramkan. Apalagi Aliza sudah banyak kemajuan. Masih banyak yang jauh lebih berat dari Alizza. Apalagi jika orang tuanya tidak memiliki cukup kemampuan untuk mengikuti program terapi maupun pengobatan.
Rabbi.....kuatkan kami Ya Allah. Bantu kami untuk senantiasa bersyukur atas segala Nikmat-Mu.


"hidup ini indah, maka syukurilah"

Halal-bi halal Bina Amal

Sabtu 11 November 2006

Sabtu pagi 11 November, ada acara Halal bi halal di sekolah Ifa –Afra. Undangannya sih jam 8 pagi. But..seperti biasanya..dapat ditebak kalau acara akan mulai lebih dari jam 8.
Berhubung Ifa mau pentas (nari Cing Ai) maka pagi-pagi Ifa di drop dulu di sekolah sekaligus dengan Adek dan mbak Hidayah. Umi, dek Alizza dan mbak Nurma ke RS dulu.
Ternyata hari ini bukan hari keberuntungan Aliza (why?...nanti deh diceritain di Posting tersendiri). Walhasil sampai jam 10 terapi belum juga usai. Karena nggak tega dengan Ifa, Umi pergi dulu ke sekolah Ifa. Beruntung lokasinya nggak terlalu jauh. Cukup naik angkota sebentar trus jalan dikit, sampai deh.
Sampai halaman sekolah..lho..kok sudah banyak yang pulang...Jadi umi pikir kalau acara sudah selesai. So .. Umi telpon abi minta dijemput. Kira-kira perjalanan dari kantor sampai ke sekolah 15 menitan, jadi masih ada waktu untuk mencari Ifa dan Afra diantara keriuhan suasana. Umi lalu masuk ke dalam...olala...ternyata acara baru setengah jalan. Baru sambutan-sambutan dan pentas anak-anak. Sayangnya pentas mba Ifa sudah terlewat. Yang ada malah grup nasyid dari Unnes lagi di panggung. Betul kan....kebiasaan sih...kalau bikin acara passtiii deh ngaret. Akhirnya pas acara inti taushiyah, audiensnya tinggal kurang dari separoh kursi.
Setelah celingak-celinguk ke sana kemari akhirnya ketemu juga dua bidadari itu juga mbak hidayah. Emm....mau pulang kok nggak enak ya....karena acara belum juga usai. Tapi abi sudah nunggu nih.....gimana ya....
Anak-anak masih keukeuh nggak mau pulang. Ya sudah...coba deh Abinya yang dilobi, lagian Alizza juga belum selesai kan....Daripada nunggu di RS kan masih mending nunggu di sekolah.
Dari ekspresi wajah, tampaknya Abi (seperti biasanya) tidak suka kalau harus nunggu lama-lama. Yah....kayak simalakama nih. Apa boleh buat...tampaknya lebih mudah melobi Ifa dan Afra daripada melobi Abi. So....akhirnya kita pulang setelah sebelumnya menjemput Alizza di RS.
Wuih......pagi yang melelahkan. Masya Allah...

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Kabar Duka (again...)

Sabtu 4 November 2006

Pagi hari, telepon rumah berdering. Biasanya yang pagi-pagi telepon begini Mbah Putri. Ternyata, kawan kantor mengabarkan berita duka. Mbak Ninok, kawan kami kehilangan buah hatinya yang baru saja dilahirkan di usia 6 bulan kandungan dan hanya sempat bertahan hidup selama 2 jam.
Bergegas aku berbenah. Pagi ini mesti mengantarkan Ifa dulu. Adek dan Dek Afra kali ini mau naik angkutan kota.
Setelah dari sekolah langsung ke RS. Di sana beliau sudah bisa turun dari tempat tidur. Sedang duduk di kursi depan taman bersama seorang kawan. Yah...aku udah keduluan rupanya. Tak apa-apa, semakin banyak yang datang semakin baik. Jadi banyak yang menemani dan menghibur. Bagaimanapun, ini cobaan yang berat buat beliau. Meskipun berusaha tersenyum, sesekali wajahnya memerah menahan tangis. Duh..mbakyu..andai aku bisa berbagi dukamu. Maafkan kami yang tidak bisa berbuat banyak.
Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un. Semoga diberikan kekuatan pada Ayah bundanya. Berat pasti buat mereka, karena setalah bertahun-tahun menantikan kehadirannya, rupanya Allah swt belum menghendaki anak ini bertahan lebih lama. Innallaha ma’asshoobirin. Sesungguhnya Allah swt beserta orang-orang yang sabar.

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Makan siang yang Nyummy...

Kamis 2 November 2006

Yup..kali ini makan siang bersama di NgR. Sayangnya tidak semua personil FPS hadir.
Timnya Mr. Mun sebagian harus absen karena ada meeting penting katanya dengan divisi. Mr Bos juga. Habis rapat langsung nyusul deh....Gitu janjinya.
So ...yang ada di kantor meluncur duluan. Sampai di lokasi nggak enak kalau bengong kelamaan. Apalagi model nya kan Buffet Lunch AllYou Can Eat. Jadilah perut-perut kelaparan ini segera berkriuk-kriuk ria. Dan lagi menunya lagi passs banget.....Uenak. Yo wis..tanpa ba-bi-bu lagi kontingen segera menyerbu hidangan.
Setelah semuanya kenyang...barulah Mr Mun&team dan Mr Bos datang. Muaap ya Pak...kami makan duluan.
Btw....ada yang ambil kesempatan nih. Alasannya sih biar Mr Bos ada teman makan. Padahal...sebetulnya emang pengin nambah. Cuek Bo......

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Pagi Yang Sepi

Kamis 2 November 2006

Hari ke empat masuk kantor setelah libur lebaran. Tapi kok rasanya masih seperti bulan puasa ya. Masih sepi gitu deh. Kayaknya belum semua orang betul-betul ON.
Ah sebodo deh dengan orang-orang. Yang penting aku kerjain job ku dengan baik. Apalagi nanti siang ada acara makan siang dalam rangka halal bi halal, trus jam 2 siangnya kita mau takziah ke Mertuanya Bu Ning teman kantor.
So..pagi2 semua kerjaan harus kelar.


"hidup ini indah, maka syukurilah"

Monday, July 24, 2006

Episode Baru Anakku Alizza


Anakku Alizza,
bidadari yang mengingatkanku akan Syukur kepada-Nya.
Bidadari yang mengajariku makna keikhlasan yang sesungguhnya.
Bidadari kecilku yang baru berusia 20 bulan,
yang dengan tertatih baru saja mampu menapakkan kaki untuk berdiri dengan meraih pegangan.
Di usia semuda itu, dia sudah harus belajar keras untuk mencapai sebuah kemajuan.
Di usia semuda itu, dia sudah harus berhadapan dengan sederetan program pemulihan.
Bidadari kecil yang senantiasa tersenyum lebar kala mendapatiku ada dalam jangkauan pandangnya.
Bidadari kecil yang kini mulai suka menangis jika aku tidak mendekatinya.
Biarlah para dokter memberikan diagnosa baru tentangmu,
Aku tak mau berandai-andai bagaimana masa depanmu kelak..
Biarlah Allah saja yang akan tentukan jalannya.
Biarkan kami mengikuti garis ini dengan ikhtiar segenap daya
Apapun yang akan kau lalui, aku akan selalu bersamamu.
Episode baru akan kau lalui Nak.
Diagnosa baru itu membuat usahamu harus lebih keras lagi.
Alizza...bidadariku...Sabarlah Nak...Kuatkan hati Umi dan Abi...
Agar tetap tegar dan sabar mengantarkanmu menjadi Hamba Allah yang Shalihah.




"hidup ini indah, maka syukurilah"