Monday, July 24, 2006

Episode Baru Anakku Alizza


Anakku Alizza,
bidadari yang mengingatkanku akan Syukur kepada-Nya.
Bidadari yang mengajariku makna keikhlasan yang sesungguhnya.
Bidadari kecilku yang baru berusia 20 bulan,
yang dengan tertatih baru saja mampu menapakkan kaki untuk berdiri dengan meraih pegangan.
Di usia semuda itu, dia sudah harus belajar keras untuk mencapai sebuah kemajuan.
Di usia semuda itu, dia sudah harus berhadapan dengan sederetan program pemulihan.
Bidadari kecil yang senantiasa tersenyum lebar kala mendapatiku ada dalam jangkauan pandangnya.
Bidadari kecil yang kini mulai suka menangis jika aku tidak mendekatinya.
Biarlah para dokter memberikan diagnosa baru tentangmu,
Aku tak mau berandai-andai bagaimana masa depanmu kelak..
Biarlah Allah saja yang akan tentukan jalannya.
Biarkan kami mengikuti garis ini dengan ikhtiar segenap daya
Apapun yang akan kau lalui, aku akan selalu bersamamu.
Episode baru akan kau lalui Nak.
Diagnosa baru itu membuat usahamu harus lebih keras lagi.
Alizza...bidadariku...Sabarlah Nak...Kuatkan hati Umi dan Abi...
Agar tetap tegar dan sabar mengantarkanmu menjadi Hamba Allah yang Shalihah.




"hidup ini indah, maka syukurilah"

Thursday, March 16, 2006

LANSIA..OH..LANSIA

"Mbah mau turun di mana?" demikian tanya sang kondektur kepada seorang nenek "sepuh" yang duduk di kursi sebelah sebelahku. Beliau tampak berpikir agak setengah bengong..sambil mengeluarkan uang dari dompet kecilnya, dan bergumam lirih.."Pati..". Uang ribuan yang berjejal dan sudah kumal itu beliau serahkan seluruhnya kepada si kondektur sambil dengan perlahan bertanya "wonten susuke mboten ?" (Ada kembaliannya nggak ?). Dan Pak Kondektur menyerahkan selembar ribuan kepada nenek itu. Beliau terdiam tapi tampak kebingungan. Entah apa yang ada dalam benaknya. Tapi diterimanya juga uang itu dan dimasukkan kembali ke dompetnya yang mungil dan lusuh.
Tadinya aku berniat untuk tidur dalam perjalanan ini. Maklum saja aku berangkat dari rumah jam setengah enam pagi, setelah semalaman tidak cukup tidur. Akan tetapi, demi melihat adegan yang baru saja tersaji dihadapanku segera saja membuat egoku untuk tidur terkalahkan. Aku tidak habis pikir..anak mana sih yang tega membiarkan Ibu nya yang sudah setua ini..agak linglung pula bepergian sendiri. Masya Allah.
Setelah kondektur berlalu, aku dekati beliau. "Mbah mau kemana ?" sapaku membuka percakapan. "Kemana ya....ke Pati..." beliau menjawab dengan ekspresi wajah yang agak bingung. " Mbah sendirian ?" beliau mengangguk. "Kok nggak minta diantar anaknya..?" rasa heranku membuat pertanyaan ini terlontar. "Anakku sudah meninggal". Innalillahi."Trus sekarang Mbah mau kemana ?"kejarku lagi. "Mbah mau nengok cucu...". Ya Allah..sedemikian sayangnya beliau pada sang cucu sehingga rela menempuh perjalanan jauh seorang diri hanya untuk bertemu cucunya. Benar-benar kasih sepanjang jaman. Aku pun kemudian terdiam. Beliau juga terdiam sambil memperhatikan lalu lalang kendaraan yang tampak dari jendela.
Tiba-tiba dia bertanya padaku "Nduk...kalau ke Pati masih jauh ?". Ya Allah..pertanyaan itu ditujukan ketika bis baru saja 30 menit berjalan dari terminal. "Masih jauh sekali Mbah..."jawabku. Lalu dengan pandangan yang agak nanar dan linglung, dia menatap jalan sambil berbisik lirih.."Pati jauh ya Nduk....". Aku hanya bisa mengiyakan, karena kantuk segera menyerang.
"Nduk..nduk...", guncangan di tangan dan panggilan si Nenek mengagetkanku yang masih terkantuk-kantuk. "Ya mbah..ada apa?"tanyaku agak bingung."Nanti sampai Pati saya diantar ya Nduk..".Ups..whe..lah..bagaimana mungkin aku bisa mengantarnya, kalau saya sendiri sudah harus turun di Kudus yang jaraknya 50 km sebelum sampai di kota Pati. Tak ingin mengecewakannya, tapi aku sendiri harus sampai tepat waktu, maklum pekerja semacam aku tak diperbolehkan terlambat tanpa alasan yang bisa dimaklumi oleh atasanku. Untunglah seorang gadis yang duduk di dekat kami menjawab kegundahanku."Nanti saya antar mbah.."demikian ucapnya. Ups...saya kehilangan sebuah peluang amal karena pekerjaanku.
Aku teringat almarhum nenekku, juga nenek dari pihak suamiku yang sama-sama sudah tua. Lalu pikiranku melayang, apa yang sedang dikerjakannya saat ini. Duduk di teras rumah sambil melipat jemuran yang sudah kering, kemudian memberi makan ternak-ternaknya. Setidaknya beliau lebih beruntung. Masih ada anak dan cucu yang bisa dinantikannya. Belum pernah rasanya beliau harus bepergian sendirian.
Hingga kemudian aku berpikir kiranya kelak aku jadi lansia, akan bagaimanakah diriku saat itu kelak...
Wallahua'lam bisshowab.
"hidup ini indah, maka syukurilah"

METAMORFOSA

Metamorfosa...Perubahan....Tiada yang abadi di dunia ini...ya...that's right...People Change.
Sambil menghembuskan napas panjang....akhirnya saya sampai pada sebuah permakluman itu.
Ya..betul sebuah perubahan adalah keniscayaan. Tinggal kita melihatnya apakah menjadi lebih baik ataukah tidak ?? Perubahan menuju kemajuan atau kemunduran ??
Nilai baik benar itu sendiri dipandang dari sudut pandang yang bagaimana? Sehingga menilai sebuah perubahan adalah sebuah kemajuan atau kemunduran, kebaikan atau keburukan, menjadi sesuatu yang tidak bisa dipastikan kebenaran penilaiannya.
Mengapa saya sampai berkontemplasi memikirkan masalah ini ? Jawabnya dimulai ketika pagi ini saya membuka file-file foto lama di url seorang sahabat Rupanya beliau termasuk orang yang tekun menyimpan evidence memori masa lalu. Di situ ada foto-foto kami dan sahabat-sahabat yang lain beberapa tahun yang lalu. Lalu saya pun mencoba mereka ulang karakter masing-masing sahabat pada masa itu dan bagaimana karakter mereka pada masa ini. Juga terlintas karakter sahabat-sahabat lain. Ada sahabat yang dulu nya asli pendiam dan relatif tidak cukup dekat dengan kawan-kawan wanitanya, bahkan penampilannya pun asal aja..sekarang menjadi "penasihat para gadis" (ini kata orang yg ngisi Testimoninya). Ada sahabat yang dulunya gak begitu peduli dengan segala aktivitas ruhani..sekarang begitu tawadlunya..begitu santun..Subhanallah..
Ada juga yang dulu tomboi..sekarang menjadi begitu feminin dan..."seksi".... Atau yang dulunya Playboy sekarang tunduk dalam sebuah Rumah tangga yang damai...
Begitu banyak beda sahabat-sahabatku dulu dan sekarang...Dan Bagaimanakah dengan diriku sendiri ?? Membaca Testi yang ditulis sahabat-sahabatku di FS..membuatku bergidik...Bagaimanakah diriku sekarang...???Lebih baikkah dari yang dulu?? Bermetamorfosa menjadi apakah aku sekarang ?
Berusaha menjadi lebih baik adalah sebuah kewajiban bagi setiap muslim. Agar hari ini selalu lebih baik dari hari kemarin. Selalu bermuhasabah agar tidak lupa diri. Sesungguhnya di setiap diri kita kelak akan diminta pertanggungjawaban di Yaumil Akhir. Wallahu'alam Bishawab..
"hidup ini indah, maka syukurilah"

Wednesday, February 22, 2006

Jadi Juara Euy......


Tanggal 9 Februari yang lalu aku dan suamiku mengikuti Lomba Dinas mewakili . Aku nggak tahu ide siapa untuk menyatukan kami dalam satu grup..
But..ide itu ternyata tokcer..nyatanya Alhamdulillah kami berhasil menyabet peringkat pertama...Nggak sia-sia..usaha belajar, cari literatur, praktek di lab berjam-jam....
Semua capek rasanya terbayar dengan sukses itu...
Thanks To God ...and thanks to all...untuk semua bantuannya
Special thanks untuk rekan satu tim tercinta...(cie..suami sendiri..), rekans kontingen Semarang (Amin, Sarjono, Hariyadi, Budi), Official kami (Pak Joko dan Pak Edy)...
Inilah berita selengkapnya :
Dikutip dari : Portal Divre-IV
Reported by : Purel Divre-IV

Posted by 600678 on 2006/2/10 9:02:34 (340 reads)
Bertempat di Lobby lantai dasar Gedung Telkom Divre IV (09/02) sebagai rangkaian dari “Lomba Ketrampilan Speedy dan Telkomnet Instan Tahun 2006” tingkat Divre IV di hari kedua yang diikuti dari Datel (Semarang, Solo, pekalongan, Purwokerto dan Yogyakarta) berlansung mulai pukul 09.00 Wib dan berakhir pukul 12.00 WIB dengan Koordinator lomba adalah Ria Rostina, SH. dan Dewan juri dari UPLATDA Semarang diketuai oleh Agus S.Dalam kata pembuka koordinator membacakan tata tertib lomba, dan beliau (Ria Rostina) berpesan untuk tetap menjaga sportifitas dan keadilan dari lomba ini, maka para dewan juripun dipilih dari pihak yang netral. Masing-masing regu diwakili oleh 2 orang, setiap sesion diikuti oleh 5 regu dan setiap regu diwajibkan unjuk gelar yel-yel dan dinilai, sebagai penilai adalah dari para penonton. Sesion pertanyaan dibagi menjadi 3 yaitu Soal Wajib, Soal lemparan dan Rebutan, suasan semakin seru ketika sudah masuk ke soal rebutan karena nalai mereka saling kejar mengejar Sebagai hasil akhir lomba cerdas cermat masing-masing sebagai berikut :Kategori A sebagai pemenang adalah Kandatel Semarang dengan total nilai : 130 Kandatel Pekalongan dengan total nilai : 125Kandatel solo dengan total nilai : 80Sedangkan untuk kategori B yang masuk nominasi untuk maju kebabak Final dari :Kandatel Purwokerto – 2, Kandatel Pekalongan – 2, Kandatel Semarang – 1 dan Kandatel Semarang - 2Menurut Sutejo, sebagai peserta perwakilan dari Kadatel Pekalongan, terasa plong setelah selesai lomba dan menjadi juara kedua kategori A mengatakan “acara seperti ini bagus untuk mempersiapkan diri dalam rangka louncing Speedy ke masyarakat luas, selain itu juga mempersiapkan Telkom dari sisi SDM dan knowledge”. *** (Kom-D04)



"hidup ini indah, maka syukurilah"

Thursday, January 26, 2006

Punya Anak Dalam Jarak Yang Berdekatan....Sulitkah ?

Saya bergabung dalam milis konsultasi anak di konsultasi-anak@yahoogroups.com. Ini forum tanya jawab tentang kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Kemudian ada salah satu anggota yang bertanya tentang bagaimanakah dampaknya jika punya anak dengan jarak yang berdekatan. Wah...aku jadi tertarik untuk ikut berdiskusi, cause aku salah satu pelakunya ..he..he..
Selengkapnya saya sajikan dalam tulisan berikut ini, mungkin bermanfaat bagi yang lainnya.
Dimulai dengan pertanyaannya :
----- Original Message -----
From: Mr. J
To: bundaalizza
Sent: Tuesday, January 24, 2006 2:47 PM
Subject: mohon sharing
Dear Ibu,Maaf saya langsung kirim ke imail Ibu,saya cuma mau tanya Bu,saya tertarik dengan informasi dari Ibu (dari milist konsultasi anak) bahwa ketiga anak Ibu masih balita semua, berarti kelahirannya relatif sangat berdekatan.Begini Bu, istri saya umurnya 30 tahun, anak pertama saya umurnya baru 5 bulan dengan proses melahirkan secara Caesar ( sekarang kondisi istri dan anak saya sehat), dikarenakan usia istri saya, kami ingin punya anak lagi ( istri saya hamil lagi ) setelah anak kami berumur sekitar satu tahun. Jika Ibu berkenan sharing, apa saja efek negatif dari keinginan kami ini, baik dari sisi kesehatan sang Ibu (soalnya ada yang bilang harus nunggu minimal 3 tahun dulu) maupun dari psikologi anak pertama yang nantinya perhatian ke dia akan berkurang ( soalnya ada yang bilang kasihan nanti anak pertama akan merasa kurang kasih sayang dan minta perhatian lebih den gan kenakalannya ) Demikian mohon sharing saya, terima kasih banyak ya Bu
---------------------------
So, saya kutipkan salah jawabanku utk pertanyaan tsb, mungkin bermanfaat juga untuk yang lainnya.
Husna Maulida wrote

Salam kenal Pak .....

sebetulnya tidak ada yang sulit jika kita membuatnya menjadi mudah, dan menjalaninya dengan bahagia.
Anak saya yang pertama dan kedua berjarak 2 tahun 3 bulan. Ini memang sudah kami (saya dan suami) rencanakan. Pertimbangannya, supaya si kakak ada teman main dan bisa belajar berbagi. Anak saya yang kedua dan ketiga hanya berjarak 16 bulan, kalau yang ini Rejeki nomplok dari Tuhan. Ketiganya terlahir normal.
Secara medis, saya tidak tahu persis efek negatifnya karena saya bukan dokter. Namun saya rasa, dengan berkembangnya teknologi kedokteran, hal ini bukanlah sesuatu yagn mustahil (di milis pernah ada yang cerita ttg hal ini). Kuncinya, rajin kontrol ke dokter selama kehamilan, dan sebaiknya, karena pernah punya riwayat caesar, sebaiknya sejak awal kehamilan kontrol rutinnya ke dokter yang dulu menangani persalinan anak pertama. Sehingga dokternya tahu persis historinya.
Dampak negatif pada psikologis anak, sebetulnya tidak terlalu dipengaruhi oleh jarak kelahiran, bahkan jika jarak kelahiran terlalu jauh, justru kecemburuan si kakak menjadi lebih besar, karena dia terlalu lama menjadi "raja kecil" di rumah.
Secara psikologis, jika kita antisipasi sejak awal, dampak negatif pada psikologis si kakak bisa kita minimalisir.
1 -
Dimulai dari hal-hal yang sederhana yang mampu dicerna oleh akal anak (perlu diingat anak baru sampai pada tahap pola pikir logis, dan akan sulit untuk memahami hal-hal yang bersifat abstrak, Misalnya : untuk melarang dia naik ke pagar, anak akan memahami jika kita katakan bahwa jika naik pagar nanti bisa jatuh, jika jatuh, nanti luka dan kalau luka maka sakit. Namun akan sulit dipahami, jika kita katakan, jangan naik ke pagar, berbahaya ; berbahaya adalah sesuatu yang cukup abstrak bagi anak).
2 - Pada tahap awal kehamilan, sampaikan kepada kakak bahwa di dalam perut mama ada adek. Sampaikan hal-hal yang menyenangkan tentang adek kepada si kakak, seperti misalnya adek nanti kalau sudah besar bisa jadi teman bermain, dll. Ciptakan nuansa kebangg aan menjadi seorang kakak. Ajarkan anak untuk menyayangi adeknya dengan mengelus perut mama atau mencium perut mama. Ajarkan juga untuk mengajak bercerita dengan adek di perut mama,
- Bertahap pula, ajarkan si kakak untuk mandiri. Anak usia 1 tahun relatif sudah bisa kita ajak bicara dan bernegosiasi. Sampai dengan menjelang kehamilan, sampaikan juga bahwa sebentar lagi adek akan keluar, jadi mama harus ke rumah sakit dulu, kakak di rumah bersama ayah atau nenek (atau siapa yang akan menemaninya di kala mamanya menjalani persalinan), bersih-bersih rumah untuk menyambut adek.
- Selalu berikan penghargaan berupa pujian jika ia mau melakukan yang kita harapkan. Bangun sikap diri positif dalam diri si kakak dengan menghindarkan mencapnya dengan kalimat-kalimat negatif (seperti mengatakan dia nakal, cengeng dan sejenisnya)
- Pada saat adek s udah di rumah, tetap berikan perhatian pada si kakak. Bangun suasana yang membuat dia percaya bahwa papa dan mamanya tetap menyayanginya. Pada fase ini kadang anak suka berulah, seperti rewel, menangis tanpa jelas apa yang dimau, ataupun melakukan hal-hal yang membahayakan adek bayinya. Peran penting orang tua di saat ini untuk bersabar menghadapi ulahnya. Hadapi dengan kasih sayang, jangan dengan perilaku menghukum ,apalagi berbuat kasar, seperti mencubit, menjewer telinga dan sejenisnya. Memang butuh kesabaran ekstra ya Pak.
- Seiring dengan bertambahnya usia, berikan kasih sayang yang adil terhadap keduanya. Tidak selalu harus membela si adek hanya karena adek lebih kecil. Cermati permasalahan diantara mereka dengan baik, sebelum memutuskan siapa yang bersalah. Ada saatnya juga, jika memang adek yang salah, sampaikan kepada adek bahwa adek salah. Kemudian , ketika terjadi perselisihan, sebaiknya kita pisahkan meraka, tanpa harus menudi ng siapa yang salah dan siapa yang benar. Jika suasana sudah reda, barulah kita tanyakan (dalam bahasa anak tentunya) bagaimana masalahnya, dan bantu mereka menyelesaikan permasalahan itu. Namun ada kalanya kita tidak perlu mengungkit permasalahan jika hanya akan membuat mereka berselisih lagi. jadi mamang sebagai ortu kita harus jeli-jeli dan kreatif menghadapi mereka.
- Membiasakan anak meminta maaf jika melakukan kesalahan, tentunya dengan teladan kita sebagai ortunya. Kita tidak perlu segan minta maaf pada anak jika memang kita salah.
- Saya punya resep mendamaikan anak saya yang pertama dan kedua jika mereka berantem. Pisahkan keduanya, kemudian ketahui dengan cermat siapa yang salah, dan minta pihak yang salah untuk meminta maaf dan saling berpelukan, jika perlu saya atau ayahnya juga ikut berpelukan bersama mereka. Biasanya kalau sudah demikian, sesaat kemudian mereka sudah bermain bersama lagi.
- Kuncinya memang kesabaran ekstra dan energi ekstra untuk membagi perhatian sebaik-baiknya.
So...jangan ragu untuk punya anak lagi.
Demikian, semoga bermanfaat dan Mohon maaf jika ceritanya jadi panjaaaaaaaang...........sekali.


salam hangat,

husna



"hidup ini indah, maka syukurilah"

Tuesday, January 24, 2006

Loncat-Loncat (Karya fotografer cilikku)


ini ekspresi anak-anakku kalau sedang gembira. Kalau udah begini, mereka narsis abis deh....kayak uminya. Dengan antusias mereka akan berebut untuk diabadikan gambarnya dan bergantian menjadi fotografer-fotografer cilik. Dan...inilah hasil jepretan mereka yang sangat alamiah.....

"hidup ini indah, maka syukurilah"

Monday, January 23, 2006

Gadisku Pulang ke Rumah

Jumat malam, telepon di rumah berdering. Ternyata dari kakakku. Di seberang sana, kakakku mulai cerita kalau sore tadi gadis kecilku menangis karena tidak mau ditinggal pergi kakakku. Padahal Sabtu paginya kakakku harus pergi ke untuk rapat keluar kota dan menginap !!! Dan tidak mungkin dong mengajak gadis kecilku menginap di acara tersebut. So..solusi satu-satunya adalah membawa dia pulang ke rumah...Finally....
Akhirnya setelah gagal membujuknya pulang seharian, ternyata malah kejadian sore itu membuat gadisku mau pulang. Meskipun dalam hati, kakakku masih was-was...
Sabtu pagi, jam 05.00, perjalanan dimulai. Semuanya berjalan lancar. Sampai kemudian bis yang ditumpangi kakakku, adikku dan gadis kecilku sampai di kotaku. Dan...betul saja saudara-saudara...ketika harus turun dari bis, gadisku tidak juga mau turun. Bayangkan..dia malah minta kembali ke kota tempat budenya tinggal. Duh Gusti...gimana ini....
Beruntung dengan bujuk rayu budenya akhirnya dia mau turun juga. Dan dengan manisnya menuju ke arahku yang menjemputnya di terminal. "Akhirnya kau pulang juga Gadisku". Selamat datang Gadisku. Betapa Umi merindukanmu....



"hidup ini indah, maka syukurilah"

Friday, January 20, 2006

Pagi Ini Indah....Dimulai Dengan Dorong Motor

Pagi ini indah.....demikian terucap kala mentari menyeruak di jendela rumah...
Cuaca cerah sedikit berawan. Dan aku pun mulai bersiap-siap meninggalkan istana kecilku menuju tempatku bekerja. Semuanya berjalan lancar meskipun aku harus pergi sementara Afifah-ku yang kedua belum juga mau bangun.
Segala sesuatu harus kita syukuri....Bersyukur pada Allah swt, pagi ini aku masih diberi kesehatan untuk berangkat ke tempat kerja.
Setelah sejenak bercanda dengan si bungsu, aku mulai melaju bersama motor kesayanganku (lha adanya cuma itu ya jadi kesayangan tho...)
Sambil bersenandung, kunikmati perjalanan pagi ini, sampai kemudian tiba-tiba di dekat masjid di perempatan setelah Stasiun Tawang terdengar bunyi ...klothak..klothak...klothak..
Dan kemudian motorku pun berhenti dengan sendirinya tanpa bisa kucegah....
Kulongok ke bawah....wheladhalah...ternyata rantai motorku lepas. Ups...tenang saudara-saudara...semalam kejadian demikian sudah berhasil kulewati dengan mulus. So..don't be panic. Segera kutepikan motorku dan kucoba untuk memasang kembali rantai yang lepas itu. Tapi kok..nggak bisa-bisa juga. Tampaknya ada sesuatu yang mengganjal di bagian dalam. Duh...gimana ini...pagi-pagi begini mana ada bengkel yang buka...Nha...itu ada tukang roti, pasti dia hapal daerah sini. Katanya "ada mba, tapi bengkel tambal ban, coba aja siapa tahu bisa". Oke lah, nggak apa-apa di coba. Kirain dekat...ternyata ....lumayan juga ndorong motor sekitar 300-an meter lah. Yah..daripada nggak ada sama sekali...Syukurilah neng....
Sampai di bengkel, ternyata abang bengkelnya canggih juga kok. Selang 30 menit kemudian urusan kelar, malah disediakan air dan sabun utk cuci tangan juga (lha tanganku asli belepotan oli gara-gara nyoba betulin tuh rantai).
Perjalanan pun kembali kulanjutkan...dan sampai di tempatku kerja dengan selamat meskipun telat. Alhamdulillah. Bersyukur ketika tiba-tiba motorku berhenti di tengah jalan, dari arah belakang tidak ada kendaraan lain yang nyelonong....Bersyukur ada tukang roti yang mau ngasih tahu lokasi bengkel terdekat...Bersyukur masih bisa diperbaiki cuma dengan ongkos Rp. 4.000 perak...Bayangkan..bahkan untuk sekali makan di warung penyet semalam, aku dah habis lebih dari segitu...
(Sayangnya aku nggak sempat bikin gambar pemandangan ketika aku tengah mengutak atik motor ya..)
"hidup ini indah, maka syukurilah"

Thursday, January 19, 2006

Ghayda, Sabarlah Anakku


Hari ini anakku yang ketiga, Ghayda, kembali menjalani terapi. Seperti biasanya dia berangkat bersama Mba Nurma, pengasuhnya, diantar sang ayah. Hari ini jadwal Abi nya mengantar. kami memang mengatur jadwal mengantar di hari kerja antara saya dan suami masing-masing satu kali dalam seminggu. Sampai saat ini terapi sudah dijalaninya selama sekitar 2 bulan. Tidak terbayangkan betapa tidak menyenangkannya proses ini untuknya. Tiap kali terapi, dijalaninya sambil menangis. Bahkan ketika baru saja menjejakkan kaki di ruang terapi dan bertemu dengan Terapisnya, tangisnya sudah langsung meledak.
Yah...tapi ini semua demi kebaikannya. Agar dia bisa mengejar ketertinggalannya dari anak seusianya.
Sabar ya Nak....
Berdoalah pada Allah Swt agar usaha kita diridhoi dan membawa hasil yang maksimal.



"hidup ini indah, maka syukurilah"

Ifa ku...Umi Kangen




Selamat Sore...
Hari ini hari ketiga Gadis kecilku, Afifah pertama, biasa ku panggil Ifa , berlibur ke tempat budenya. Duh...rumah jadi sepi deh...
Adeknya..dek Afra jadi nggak ada teman main.
Mulanya...hari minggu aku ajak dia ke rumah neneknya, ada acara nikahan kerabat di sana. Waktu mau pulang, sepupu-sepupunya minta ikut. Eh...besoknya ketika sepupu-sepupunya pulang, dia minta ikut. Dia bilang aku mau ke tempat bude sepuluh hari ya Mi. Aku iyakan aja...Ku pikir berapa lama sih dia bisa tahan di sana, wong kalau tidur tidak pernah bisa lepas dariku. Eh ternyata dia betah dan nggak mau pulang....katanya mau sepuluh hari di tempat bude...
Duh anakku...betapa umi merindukanmu...

My First Blog



Alhamdulillah, bisa juga akhirnya posting blog di blogspot. Udah lama banget pengin bikin tapi gak sempat-sempat. Maklum lah....wanita karir dengan tiga balita .. :) (ups...lagunya...)Mulai terpikir untuk mulai bikin tulisan semenjak memori di kepala sudah tidka cukup lagi untuk menampung semua catatan perkembangan masing-masing anak plus segala tingkah polahnya yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Belum lagi sebagian memori sudah tersedot untuk urusan kantor.... (I'm sorry babies....). So...I hope...this blog will be my family's diary...Ok...cium sayang untuk tiga bidadariku....