Dipersembahkan untuk Seluruh Ibu di Dunia, Semoga tetap bahagia menjadi Ratu Rumah Tangga. Berbakti pada suami dan anak-anaknya dengan sepenuh pengabdian.
Monday, August 04, 2008
Hati-hati dengan mulut kita
Oiya, ada cerita unik sepulang dari DT. Ceritanya dalam perjalanan ke hotel, kami mampir nyari HP GSM di BEC. Pas kebetulan ada promosi SE, setiap pembelian di outlet tertentu dapat lucky draw yang diambil di standnya SE. Setelah muter-muter akhirnya pilihan jatuh pada salah satu outlet. Kata yang jaga, struk pembelian dituker aja di stand SE untuk dapat Lucky drawnya. Setelah nulis nama dan jenis HP yang dibeli, aku antri ambil lintingan. Dua orang di depanku semuanya mesti puas dengan haadiah kantung hp. Lha sekarang giliranku . Hem....Apa ya isinya ..... eng...ing..eng....setelah sedotan dibuka dan dilhat isi di dalam lintingan, ternyata aku dapat voucher belanja di Carrefour sebesar 200 rb. Alhamdulillah ..... Seumur-umur ikutan gituan, paling banter aku cuma dapet handuk or mangkuk cantik. Trus.....trus.....si mbak SPG nya yang cantik itu minta struk belanjanya buat bukti nuker voucher ntu .... Setelah dilihat-lihat dengan seksama, si mbak nya kelihatan bingung.... waktu ditanya kenapa, ternyata eh ternyata toko tempat aku beli itu tidak termasuk yang ikut program itu..... Oalah...padahal tadi mas-mas yang jaga toko bilang bisa .... Trus si mbak SPG ini memperlihatkan daftar toko yang bermitra, dan emang toko itu nggak masuk. Ya sudahlah mbak, belum rejeki saya...... :D . Tapi...berhubung mbanya nggak enak hati sama aku, lalu dia kasih ganti T-Shirt . Alhamdulillah ....
Di jalan suami mengingatkan aku tentang kata-kataku beberapa waktu lalu ketika aku bermasalah dengan pihak Carefour Semarang, aku sempat bilang ke CS nya kalau pelayanannnya kayak gini, aku nggak pengin datang lagi ke C4. Walah.....lha mulane voucherku melayang .....:D
Lah....belum di tanah suci saja, apa yang kita ucapkan udah jadi kenyataan .... apalagi di sana ya .... :)
Wednesday, June 18, 2008
Puisi Bunda (1)
Dari awal kami sepenuhnya faham
bahwa anak kami adalah titipan-Nya
Tiada kuasa bagi kami untuk menentang Kuasa-Nya
Pun ketika Dia memilih kami untuk mengasuh engkau anakku
Sejuta laksa tetap terukir di hati
Betapapun tak mudah menggapainya
Hanya doa dan harapan tak pernah putus terpanjatkan
Kepada-Nya kami berserah
Kamus Istilah Special Needs Children
Cukup lengkap untuk mengetahui deskripsi awal. Untuk deskripsi selengkapnya bisa ke wikipedia or sejenisnya. Semoga membantu ya.
Perlukah Terapi Sensori Integrasi Untuk Anak Saya
Perlukah Terapi Sensori Integrasi Untuk Anak Saya Mother And Baby Wed, 26 Jun 2002 13:35:00 WIB Nirmala,06/IV/Juni 2002
Contoh disfungsi Sensori Integrasi
|
Sumber: Tabloid Ibu Anak |
Monday, June 16, 2008
Craniosacral Therapy
Bunda dapat info ini dari milis Ayo Main :
Untuk info ttg apa & bagaimana Craniosacral Therapy (CST) yg ditemukan oleh Dr. John E. Upledger itu bisa dilihat di:
http://www.upledger
http://www.adidacst
Saturday, May 24, 2008
Akhirnya Naik Juga
Akhirnya setelah ramai dengan polemik masalah kenaikan BBM, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM sebesar rata-rata 30%-an.
Dan sebagaimana sudah diduga, tadi malam hampir semua SPBU penuh dengan antrian pembeli BBM. Termasuk saya tentunya, karena malam itu memang jatah saya untuk isi bensin, kalau tidak ingin besok paginya dorong mobil karena habis bensin.
Uniknya, antrean panjang justru terjadi di segmen sepeda motor. Apalagi di SPBU yang dekat dengan kawasan kampus…wuih….puueeennuuuuh.
Kata si narator…Cuma Ada di Indonesia….antri BBM, antri Minyak tanah, antri BLT……
Belajar dari ilmu Rafting
Ini email yang saya kirim ke teman-teman pada Mey 2006. Ketika lagi booming hobi Rafting. Hampir semua unit bikin acara outbound n rafting.
Nah, supaya kegiatan rafting ini tidak sekedar dapat capek, ada baiknya jika kita mencoba memahami hikmah yang bisa didapat dari rafting tersebut.
————————————————————————————–
Mengutip cerita Aa Gym, hari minggu kemarin, tentang ilmu Rafting/Arung Jeram.
Ketika berhadapan dengan masalah atau hambatan, kita bisa belajar dari orang yang sedang menempuh rute arung jeram.
Mengapa seorang pengarung jeram tidak menyalahkan batu yang diam menghalangi jalurnya? Atau menyalahkan arus sungai yang menderas yang mengombang-ambing perahunya?
Ya..karena dia lebih fokus kepada mencari bagaimana caranya dia bisa mengarungi sungai dan sampai kepada tujuan dengan selamat. Apapun cara dilakukannya, bakhan sampai turun ke sungai untuk menarik perahunya pun dilakoni.
Maknanya…..masing-masing rekan tentu sudah lebih pandai memahaminya.
Friday, May 23, 2008
Wednesday, May 21, 2008
Inspiring Blog
Kemudian, ketemulah blog yang inspiring di sini . Luar biasa energi beliau, di usia yang tidak lagi sedikit, tapi tetap enerjik dan ini yang penting update & gaul
Jadi kebayang Ibu saya yang dua tahun lagi genap usia 60, tapi karena sedang gundah gulana setelah ditinggal pergi ayahanda, menjadi terlihat lebih tua dari usianya.
Kayaknya perlu ajak Ibu berkunjung ke blog itu dan beberapa blog sejenis, untuk mengembalikan semangat beliau.
Tks for bu Poppi n Bunda Nihaya untuk inspirasinya.
Thursday, May 08, 2008
Tuesday, May 06, 2008
Umi Telpon Pak Ambar dong....
Besok paginya, dia mau ke sekolah. Tapi sampai di depan kelas, olala....dia menolak masuk ke kelas. Lagi-lagi pakai nangis bombay gitu. Bu gurunya nekad juga, saya diminta meninggalkan Afra meskipun dia masih menangis meronta-ronta. Ya sudah, saya pun mundur. Sabtu-Ahad, aman karena dia libur. Tiba hari Senin, kembali dia menolak pergi ke sekolah. Segala bujuk rayu tidak juga mempan, yang akhirnya justru berujung dengan berantem sama aku. Aku pun pergi ngantar Ifa duluan, kasihan kalau telat gara-gara adiknya mogok sekolah. Akhirnya Abi turun tangan. Di pelukan Abi, Afra pun luluh. Berangkat ke sekolah pun sama Abi, sementara aku mengantar adeknya terapi.
Pulang sekolah, aku jemput Afra. Hari itu aku khusus cuti buat melunakkah hati Afra.Saya pikir, ini cuma masalah mencari perhatian. Betul saja, ketika dijemput, betapa manisnya sikap anak ini :) I'm sorry baby.
Afra tidak tahu kalau hari ini aku cuti. Jadi di perjalanan pulang, dia tanya,
Afra : Umi balik ke kantor lagi nggak ?
Aku : Kok tanya gitu kenapa yang ?
Afra : Ya nggak papa. Kalau Umi ke kantor juga gak papa. Kalo nggak ke kantor lagi juga nggak papa ( jadi ??).
Tiba-tiba dia pasang muka serius dan bilang.
Afra : Umi....coba deh Umi telpon Pak Ambar. Bilang gini, Pak..boleh nggak kalau nggak balik ke kantor, soalnya anak saya minta ditemenin. Gitu ....
(*****gubrak****. Pak Ambar tuh atasanku. Anak-anak kenal beliau, karena beberapa kali ketemu waktu aku ajak ke kantor)
Kok ya bisa-bisanya punya pikiran gitu ya ?
Jeep Yang Bukan Jeep
Kebetulan juga, si Afra ini lagi ketularan hobi sepupunya, selalu nanyain tiap jenis mobil yang dilihat di jalan.
Tadi pagi ketika berangkat sekolah, mobil di depan kami mempunyai sarung ban bertuliskan JEEP. Sontak si Afra berkesimpulan bahwa itu mobil Jeep. Padahal bukan, mobil di depan kami bukan berjenis Jeep, melainkan Sidekick. Dan ketika aku jelaskan bahwa itu mobil sidekick, bukan Jeep. Lha..dia langsung protes keras. Kata dia, "wong tulisannya aja Jeep kok, ya pasti itu mobil jeep".
Oalah nduk....nduk....yo nggak sepenuhnya salah sih. Wong tulisan Sidekicknya juga cuma secuil, kalah gede sama tulisan Jeepnya.
Ibu Memilih Untuk Sendiri
Sebetulnya kami berharap ibu berkenan tinggal dengan kakak ketiga, dengan catatan kami siap menyediakan PRT untuk membantu mengasuh ketiga anaknya. Sayangnya, Ibu menolak opsi ini.
Walhasil, Ibu lebih memilih untuk tinggal sendiri ditemani PRT. PR berikutnya untuk saya dan kakak, nyari PRT yang cocok untuk Ibu.
Kemarin sudah dapat anaknya. Lha mesti pakai trial dulu kan, baru tahu cocok atau nggaknya.
Monday, April 21, 2008
Cerita Perjalanan 2
Sampai di hotel, kami termasuk tamu kepagian, karena seharusnya peserta baru boleh check in setelah jam 12 siang. Syukurlah kami diperbolehkan chek in lebih dini. Jadi badan ini bisa sedikit rebahan setelah menempuh 7 jam perjalanan.
Saatnya makan pagi, teringat betul 4 tahun lalu kami makan pagi di tempat yang sama, beserta dua putri kecil kami. Jadi keingat anak-anak, baru juga semalam meninggalkan mereka.
Usai makan pagi, beberapa teman mengajak jalan ke Pasar Baru. O..o..tawaran yang menarik, tapi juga berbahaya. Bisa bikin lapar mata. Jadi saya memilih untuk jalan-jalan ke DT saja. Sudah beberapa kali saya berkeinginan ke sana, selalu saja ada aral yang melintang. Jadilah saya dan suami memulai perjalanan nostalgia. Yup, naik angkot keliling Bandung, mengingatkan kami saat-saat baru nikah dulu. Saat kami menikah, suami sedang mengikuti pendidikan di Bandung. Berhubung anak kost, kemana-mana kami naik angkot. Jadi sudah nggak asing lagi dengan terminal angkot kebon kelapa. Karena waktunya hanya setengah hari, ya, tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi, Selain Kebon Kelapa yang sudah jadi ITC, saya hanya berkunjung ke Gerlong dan ke DT. Sempat pengin makan siang di warung padang langganan dulu. Sayang, keburu hujan deras, jadi kami makan siang di warung terdekat dengan tempat pemberhentian angkot. Menunya Roti bakar, Jus Alpokat dan Indomie rebus pake telor. Ini menu favorit suami di kost-an dulu, selain nasi padang langganannya.
Sampai di DT sudah lepas dhuhur, ada kajian putri yang diisi Teh Ninih. Kami di sana sampai ba'da ashar, langsung pulang ke hotel. Di hotel, registrasi peserta, shalat Maghrib dan Isya berjamaah, lalu acara di mulai dengan Welcome Speech dan makan malam. Selanjutnya....istirahat....
Setelah Kepergian Itu
Sedangkan kakak kedua, karena kesibukan beliau bekerja sebagai guru, disampaing aktifitas sosial kemasyarakatannya, juga kegiatan mengurus 3 buah hati, membuatnya tidak punya banyak waktu untuk mendampingi Bapak Ibu. Bapak Ibu juga sangat faham pada karakter putri keduanya ini yang lebih cekatan di luar rumah, dibandingkan di dalam rumah. Untuk urusan domestik, beliau memang tidak terlalu istimewa.
Masalahnya, kakak nomor dua ini bersuamikan seorang anak tunggal yang juga punya amanah untuk mendampingi Ibunya yang tinggal sendirian. Jadi dia harus memilih, apakah akan tinggal bersama Ibu Mertuanya, atau tinggal bersama Ibu.
Sedangkan jika kakak nomor tiga yang tinggal bersama Ibu, masalah ada di Ibu, yang merasa tidak cukup klop tinggal bersama anak-mantu-cucu yang ini.
Hingga akhirnya, karena kebesaran hati mertua beliau, kakak nomor dua ini pun boyongan ke rumah Ibu. Masalah selesai. Kami kira. Ternyata tidak. Belum juga 3 bulan Bapak pergi, mertua beliau mulai merasa kehilangan. Beliau yang tidak pernah tinggal sendirian, mulai merasa kesepian, dan mengharapkan anak semata wayang beserta istri dan anaknya, bersedia tinggal bersamanya lagi. Akhirnya, kakak pun seperti makan buah simalakama. Dan, rumah tangganya pun terasa tidak nyaman saya rasa. Ya, saya bisa memahami kondisi tersebut. Sehingga alternatif lain adalah, saya atau kakak nomor satu pindah kota ke rumah Ibu. Alternatif ini adalah yang termahal saya pikir. Kenapa ? Karena mengupayakan pindah kerja bagi PNS seperti Ipar sulung saya, atau pegawai BUMN seperti saya dan suami, tentunya tidak mudah. Selain itu kami juga harus memindahkan sekolah anak-anak, yang butuh biaya tidka sedikit. Lalu biaya boyongan, dan renovasi rumah Ibu supaya cukup ditempati keluarga saya atau kakak, yang jumlahnya kayak rombongan sirkus. Bahkan jika kakak saya yang bersedia pindah, berarti dia harus juga merelakan diri untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang, yang tentunya berarti kehilangan separuh roda nafkah keluarganya. Meskipun kami yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah, kami toh tetap harus berhitung, berapa besar dana yang dibutuhkan, juga berhitung, dari mana dana tersebut bisa didapat.
Ya Allah....kami mohon kepada-Mu, tunjukkanlah kami jalan keluar untuk permasalahan ini. Amin.
Wednesday, April 16, 2008
Cerita Perjalanan 1
Pagi, Ibu, kakak dan keponakan, Bapak & Ibu mertua, sudah datang ke rumah. Mereka yang rencananya akan menyertai keberangkatan kami ke Bandung, tempat manasik berlangsung sebelum kami berangkat ke tanah suci. Persiapan-persiapan dan packing sudah selesai. Tak urung, masih ada saja hal-hal kecil yang terlewatkan. Alhamdulillah, sebelum ashar, semua sudah selesai, tinggal menunggu saat-saat keberangkatan. Rencananya, kami berangkat menuju Bandung menggunakan KA.Harina jam 21.00. Suami masih di kantor menyelesaikan beberapa kewajiban yang mesti dituntaskan.
Sampai menjelang maghrib, suami belum juga pulang. Saya mulai gelisah. Ini awal perjalanan jauh, dan beliau belum bersiap, meskipun untuk perbekalannya, semua sudah saya urus. Rupanya kepatuhan saya pada suami hendak diuji. Beruntung Ibu dan kakak berkali-kali mengingatkan saya untuk bersabar, menahan amarah dan tidak mengeluh. Belum lagi perdebatan kami, tentang bagaimana kami akan menuju stasiun, siapa yang akan membawa pulang mobil dan bagaimana keluarga akan pulang, mengingat tidak satupun keluarga yang mengantar bisa menyetir, sedangkan suami sampai di rumah dengan jeda waktu keberangkatan yang sudah cukup mendebarkan. Saya yang biasanya keras dengan pendapat saya, apalagi jika merasa bahwa pendapat saya lebih logis, kali ini mulai berusaha keras untuk mematuhi apapun keputusan suami, sekalipun bertentangan dengan pendapat pribadi. Bukan hal mudah, mengingat selama ini saya termasuk lebih sering berpihak pada pendapat pribadi. Namun mengingat perjalanan ini adalah perjalanan ibadah, dimana saya tidak ingin ada perilaku berbantah-bantahan, sayapun lebih banyak diam dan menurut, sambil terus berdoa dalam hati, agar semoga kepatuhan kepada suami sebagai bagian dari ibadah saya pada Allah SWT mendapatkan Ridho-Nya, dan Dia memberikan kemudahan dalam perjalanan kami.
Alhamdulillah, kami sampai di stasiun sekitar 30 menit sebelum kereta berangkat. Suami menitipkan mobil ke kantor yang berjarak sekitar 3 km dari stasiun, dan rencananya akan ke stasiun menggunakan becak. Sedangkan keluarga akan pulang ke rumah menggunakan taksi yang cukup banyak mangkal di depan stasiun. Sungguh, saya tak membayangkan akankah waktu 30 menit cukup untuk membawa suami sampai di stasiun sebelum kereta berangkat. Apalagi jalan dari stasiun ke kantor memutar, karena jalan yang searah. Saya sudah hampir menangis ketika sudah lebih dari 15 menit, suami belum juga tampak. Emosi saya pun sudah mulai naik. Ibu dan kakak berulangkali mengingatkan untuk bersabar, dan pasrah pada Allah. Kalaupun ketinggalan kereta, Insya Allah akan ada jalan untuk tetap sampai di Bandung keesokan harinya. Berulangkali pula Ibu dan kakak mengingatkan untuk tetap patuh pada suami selama perjalanan sampai ke tanah suci. Emosi saya mulai mereda, dan sesaat kemudian suami pun tampak di pintu masuk. Rupanya, Allah memudahkan perjalanannya, karena ketika hendak menuju stasiun , beliau bertemu dengan seorang teman yang dengan baik hati berkenan mengantar ke stasiun menggunakan sepeda motor, yang tentunya jauh lebih cepat dibandingkan rencana semula menggunakan becak. Alhamdulillah, Ya Allah, belum juga berangkat ke tanah suci, telah Kau tunjukkan kepadaku, betapa ketika kita patuh pada aturan-Nya, maka Dia akan memudahkan urusan kita. Inilah pelajaran berharga buat saya, yang terus saya pegang.
Sepuluh menit sebelum kereta berangkat, saya dan suami berpamitan. Ada keharuan yang sangat mendalam ketika saya berpamitan pada ibunda. Teringat pada Cita-cita ayahanda untuk ke tanah suci yang belum terlaksanakan sampai akhir hayatnya. Teringat bahwa beliaulah yang sangat bersemangat mendukung ketika proses seleksi berlangsung. Bahkan beliau yang berjanji akan menemani anak-anak ketika kami ke tanah suci, karena seharusnya, mulai 1 Maret lalu, beliau memasuki masa purna tugas.
Tepat pukul 21.00, kereta berangkat. Dari jendela, kami lambaikan tangan kepada keluarga yang mengantar. Ada kesedihan karena harus berpisah, bahkan terbayang, andai saja Bapak hadir di sana, melambaikan tangan kepada kami. Namun kesedihan ini terobati dengan keyakinan bahwa perjalanan ini adalah ibadah, dan perpisahan ini adalah bagian dari ujian dari ibadah, maka kami mohon kekuatan pada Allah untuk menjalaninya.
Di dalam kereta, saya nyaris tak bisa memejamkan mata. Saya ingin betul-betul menikmati perjalanan ini. Sambil melantunkan dzikir syukur kepada-Nya, tak terasa perjalanan telah sampai di stasiun Pekalongan, kota kecil tempat saya lahir dan dibesarkan. Kenangan akan ayahanda kembali berkelebat. Tangis pun tak lagi bisa terbendung. Ya Allah, ampunilah dosanya dan terimalah semua amal baiknya sebagai penghapus dosa, dan mudahkanlah jalannya menuju Surga-Mu. Amin..
Wednesday, February 27, 2008
Terkabulnya doa itu
Saat itu, karena saya belum pernah keluar negeri, dan tidak ada rencana untuk keluar negeri dalam waktu dekat, jadi saya jawab tawaran suami, jikalau ada rezeki, aku sangat ingin kepergian pertamaku keluar negeri adalah ke Baitullah, lain itu tidak lah.
Tak disangka tak dinyana, ucapan itu didengar dan dikabulkan Allah swt. Pintu rezekinya pun tak disangka-sangka. Hingga, Insya Allah, bulan depan, adalah rencana kepergian pertamaku keluar negeri Indonesia, dengan tujuan Baitullah, Makkah. Subhanallah walhamdulillah.
Nge-Net dg Flexi Time Based, Mak Nyusss… (Link from Mr. Arsbud)
Nge-Net dg Flexi Time Based, Mak Nyusss…
Internet & Gadget February 23rd, 2008Sudah 1 bulanan ini aku selalu Nge-Net pakai PDN Flexi. PDN kependekan dari Packet Data Network, serupa dengan GPRSnya GSM. Perihal kenapa aku pakai PDN Flexi ada 2 alasan :
1. Memang aku hanya punya terminal Flexi untuk komunikasi pakai HP.
2. Pingin coba layanan terbaru dari PDN Flexi yaitu Flexi PDN Time Based. Dengan layanan ini saya gak perlu pusing lagi menghitung-hitung berapa MByte data yang udah aku gunakan sbg acuan biaya akses. Soalnya dengan Flexi PDN Time Based ini kita hanya ditagih Rp.100,- per menit (wow… bahkan lebih murah dari TelkomNet Instan). Memang untuk sementara ini hanya bisa dari Flexi Classy (pasca bayar). So, untuk kamu yg udah pakai Classy, buruan dicoba.
Kesan setelah mencoba… tenyata mak nyussss!
Bayangan sulitnya setting, koneksi yang putus sambung, koneksi yg payah nggak aku rasakan lagi (may be sudah dilakukan improvement di sana sini).
Saat aku nulis posting ini, sudah hampir 1,5 Jam aku terkoneksi PDN Flexi Time Based dari rumah. Alhamdulillah dan mencengangkan… aku dapat koneksi 101 Kbps (Down) dan 50 Kbps (Up) dan selama koneksi gak pernah turun koneksinya apalagi putus.
Cara menggunakan layanan ini sama dengan cara yang dulu dipakai untuk PDN Flexi volume based. Tinggal merubah setting username menjadi : telkomnet@flexi-time. Sisanya, sama persis.
Cobain, deh!
Tuesday, February 26, 2008
Berantem
Perkara apa saja bisa jadi bahan untuk berdebat. Pada dasarnya kedua-duanya sangat ceriwis dengan perbendaharaan kata yang lumayan banyak. Jadi, kalau berantem pun, ya pakai kata-kata. Lha kadang kata-katanya itu yang bikin kita pengin ketawa. Ada aja yang jadi bahan untuk saling ledek.
Tapi jadi pe er nih. Gimana ya biar mereka nggak lagi suka berantem gini ?? :(
Manjat
Akhirnya bisa turun dengan dibantu Umi deh. Sayang Umi nggak sempat ngambil gambarnya. Keburu terkesima dengan upayanya untuk turun.