Thursday, September 25, 2008

Dibuang Sayang

Kemarin-kemarin sempet nyari2 info penginapan di Tawangmangu dan sekitarnya untuk acara liburan bareng keluarga besar. Tapi karena satu dan lain hal, acara ini terpaksa diundur untuk waktu yang belum bisa ditentukan.
Lha, daripada sayang catetannya kebuang, mending diposting aja deh.. Siapa tahu bermanfaat untuk yang lain. Sekedar catatan, Bunda belum cek semua daftar ini. Jadi nggak bisa kasih referensi juga mana yang masuk kategori best choice nya.

List Tempat wisata :

a. Info dari sini :

Obyek Wisata yang ada di Kabupaten Karanganyar antara lain :

1. Obyek Wisata Alam : Hutan Wisata Grojogan Sewu, Wana Wisata Gunung Bromo, Bumi Perkemahan (Buper) Sekipan dan Camping Lawu Resort, Pemandian Air Hangat (PAH) Cumpleng dan Pablengan
2. Obyek Wisata Budaya : Candi Sukuh dan Ceto, Situs Palanggatan dan Menggung, Makam Raja-raja Mangadeg dan Girilayu, dll
3. Obyek Wisata Buatan : Tarnan Ria Balekambang, Waduk Lalung dan Delingan, dan lain-lainnya


b. Agro Wisata Amanah

DAFTAR PENGINAPAN
List penginapan yang udah dapet :
1. pondok asri: (0271) 697067, 697675. Blom ada info mengenai tarif, fasilitas de el el
  1. 48-48 Hotel
    KARANGANYAR -Jln. Mojo No. 1-2
    +62-271-626415
  2. Asri Pondok
    KARANGANYAR -Jln. Kalisoro Rt. 01/03
    +62-271-697067
  3. Fajar Indah
    KARANGANYAR -Bener Rt. 03/05
    +62-271-697109
  4. Kusuma Joglo Hotel
    KARANGANYAR -Jln. Raya Palur No. 18
    +62-271-25185
  5. Lawu Pondok
    KARANGANYAR -Jln. Raya Lawu
    +62-271-697020
  6. Madu Laras Losmen
    KARANGANYAR -Jln. Kalisoro Rt. 02/04
    +62-271-697147
  7. Narita Hotel
    KARANGANYAR -Jln. Adisucipto No. 4
    +62-271-721000, 722999
  8. Pondok Garuda Hotel
    KARANGANYAR -Karangkulon Rt. 02/07
    +62-271-697294
  9. Pondok Sari Hotel
    KARANGANYAR -Jln. Balekambang Tawangmangu
    +62-271-97088, 97112
  10. Tejo Mojo Hotel
    KARANGANYAR -Jln. Kalisoro Rt. 02/03
    +62-271-97149

Berikut aku rangkum dari 'halaman kuning' :)>- kode area sama dng Solo
> (0271)
>
> Arjuna Pondok Wisata - 697452
> Pondok Asri - 697067
> Losmen Kemuning - 697027
> Losmen Lumayan - 697543
> Losmen Madu Laras - 697147
> Pondok Fajar Indah - 697109
> Penginapan Sari Handayani - 697348
> Wisma RC - 697017
> Duta Indonesia Hotel - 697051
> Komajaya Komaratih Hotel - 697125
> Maliyawan Hotel - 697013
> Muncul Sari Hotel - 697101
> Pak Amat Resto & Hotel - 697022
> Pondok Indah Hotel - 697024
> Pondok Sari 1 Hotel - 697088
> Pondok Sari 2 Hotel - 697112
> Sahid Hotel - 697056
> Tejomoyo Hotel - 697149
> Wahyu Sari Hotel - 697157
> Wisma Sakti Hotel - 697073

Sunday, September 14, 2008

Tiada Yang Kekal di Dunia Ini, Nak.


berhubung Ifa sering banget bertanya perihal kematian semenjak Jid-nya meninggal, browsing & ketemu artikel ini di cyberwomwn.cbn.net
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Bila yang mengasuh atau orang yang dekat dengan anak sangat terpukul oleh kematian tersebut, anak akan mengalami gangguan emosional walaupun tidak sepenuhnya memahami kematian itu sendiri

Kenapa Kakek meninggal? Mengapa Ibu pergi ke surga dan tak pulang lagi? Kenapa si manis bisa mati? Orang-orang dewasa biasanya akan memberikan jawaban yang ‘tak menyakiti’ atau ‘membuat sedih’ pada si kecil yang ditinggal wafat orang-orang terdekatnya atau binatang kesayangannya. Jawaban kias soal kematian akan lebih sering terlontar, seperti terbang ke langit menuju surga, pergi jauh, bertemu Tuhan, dan lainnya. Umumnya orang dewasa berusaha melindungi perasaan anak.

Sementara itu, tutup usia atau kematian bisa datang pada siapa pun, kapan pun, dan dimana pun tanpa melihat kondisi orang yang akan mati maupun yang hidup di sekitar yang mati. Anak kehilangan orangtua, kakek, nenek, paman, bibi, adik, kakak, sepupu, teman, dan guru juga tak melihat kesiapannya untuk ditinggal. Berapa pun usianya dia bisa saja mengalami takdir hidup ini. Bagaimana cara menjelaskan anak tentang konsep mati ini? Perlukah ini dilakukan? Kapan saat tepat menjelaskan hal ini? Tidakkah penjelasan soal ini bisa mempengaruhi perkembangannya?

Psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risma Musa MSi, mengatakan mengenalkan konsep kematian pada anak tidak harus menunggu sampai adanya peristiwa kematian. Sebaiknya mulailah dengan menggunakan beberapa momen dari sekarang. Lalu refeleksikan hal-hal yang Anda percayai dan ceritakan pengalaman Anda. ‘’Ceritakan pada anak, kematian merupakan bagian dari siklus kehidupan yang terjadi secara alami. Di saat yang bersamaan, Anda pun bisa mengajarkannya bagaimana menghargai kehidupan,’’ paparnya.

Dalam mengenalkan konsep kematian, lanjut Elly, sebaiknya orangtua perlu memperhatikan usia, tingkat kecerdasan dan perkembangan emosi anak. Saat usia anak 3,5-4 tahun orangtua bisa menjelaskan kematian dari hal-hal yang konkret dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, membuat pohon tauge dari biji kacang hijau yang diberi kapas basah. Ajak anak memperhatikan perubahannya, saat tauge tumbuh, katakan padanya itu merupakan bentuk kelahiran dari mahkluk hidup. Ketika tauge menjadi layu dan mati, pada saat inilah orangtua bisa memberikan penjelasan secara biologis misalnya tauge mati karena tidak diberi pupuk. “Jelaskan bahwa kematian bagian dari kehidupan. Di setiap kehidupan, akan diakhiri dengan kematian begitu juga pada manusia,” ujarnya.

Psikolog anak dari Universitas Indonesia, Evita Singgih MSi menambahkan, yang paling penting adalah membantu anak untuk melihat kematian sebagai satu tahapan yang alami dan tak perlu ditakuti. Bila penjelasan di luar kemampuan kognisi anak, anak tidak akan mengerti atau menginterpretasi secara keliru. Tidak ada gunanya memaksa anak untuk memahami lebih dari yang mampu dipahami sesuai usianya.

Elly mengatakan, cara mengenalkan soal kematian yang paling mudah pada anak ialah menjawab saat anak bertanya. ‘’Karena ini menunjukkan bahwa saat itu anak memang sudah siap dan membutuhkan penjelasan mengenai kematian,’’ terangnya. Biasanya anak bertanya saat ia melihat atau mengalami kematian di lingkungannya apakah kerabat, hewan peliharaan, atau kebetulan melihat acara di televisi atau membaca ataupun mendengar dongeng yang menyinggung masalah kematian.

Manfaatkan golden opportunity dari kejadian-kejadian sehari-hari, misalnya melalui berita mengenai bencana alam (tsunami, gempa, banjir, dan sebagainya) yang memakan korban jiwa atau ketika binatang piaraan kesayangannya mati. "Jangan diam saja, namun berikan pemahaman, saat melihat hal-hal tersebut bersama anak," ujar Elly. Jelaskan pada anak bahwa kejadian yang dilihatnya sebagai penyebab kematian merupakan kekuasaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Mungkin anak akan bertanya-tanya alasan Tuhan mengambil seseorang yang mereka sayangi. "Tanamkan kesadaran pada anak bahwa setiap mahkluk hidup diciptakan dan diberi kehidupan oleh Tuhan, waktu kematian pun sudah ditentukan oleh Tuhan meski melalui cara yang berbeda-beda. Lakukan pendekatan melalui agama dengan berdoa dan memperlihatkan ayat alkitab yang menunjukkan kekuasaan tuhan,” paparnya.

Jangan gunakan kiasan
Steven Bachrach MD dari Alfred I. duPont Hospital for Children,Wilmington, AS, dalam artikelnya How to Help Your Child Deal with Death mengatakan, ada baiknya tidak menggunakan kiasan yang membuat anak malah tidak memahami situasi yang terjadi. Meski umumnya anak sulit memahami semua orang yang hidup akan meninggal sewaktu-waktu. Jadi meski Anda sudah menjelaskan, anak tetap akan bertanya dimana atau kapan mereka ‘kembali’. Berikan pemahaman, bahwa orang yang sudah meninggal tak akan ada lagi di dunia dan anak tidak bisa menemuinya lagi.

Hindari mengatakan ‘Paman A sedang di langit’ atau ‘nenek sedang tertidur panjang’, karena akan membingungkan anak serta membuatnya menunggu kehadiran sang nenek atau paman. Alhasil anak akan terus bertanya-tanya. "Jawab pertanyaan anak dengan apa adanya, tapi pastikan anak berkesempatan bertanya untuk mengetahui informasi lebih banyak. Tidak mengapa jika orangtua belum bisa menjawab semua pertanyaan. Katakan dengan jujur, Anda pun belum tahu jawabannya, namun tetap usahakan memberi jawabannya," jelas Bachrach.

Kenali Emosi anak
Anak berusia 5-6 tahun, lanjut Bachrach, masih melihat dunia secara lateral. Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkret. Jika orang sakit atau tua, misalnya, jelaskan bahwa organ tubuh mereka tidak berfungsi dengan maksimal dan dokter pun tak bisa memperbaikinya. Jika seseorang meninggal tiba-tiba akibat kecelakaan, Anda bisa jelaskan apa yang terjadi, tubuh orang tersebut berhenti bekerja.

Dalam menghadapi kematian, biasanya anak-anak mengekspresikannya dengan beragam cara, seperti menangis, marah, lebih banyak diam, menolak kematian atau bahkan berbicara dengan orang yang meninggal. Seperti orang dewasa, kata Evita, reaksi anak dalam menghadapi kematian pertama-tama syok atau menyangkal. Kadang-kadang muncul rasa marah yang bisa ditujukan pada siapa saja, misalnya pada dokter yang tidak berhasil menyelamatkan, muncul rasa bersalah pada diri sendiri. Bahkan terkadang anak menjadi marah pada yang meninggal karena telah meninggalkannya, atau marah pada Tuhan.

"Berikan kesempatan pada anak untuk menampilkan emosinya, jangan memaksa anak menekan kemarahannya. Tunjukkan bahwa kita memahami perasaannya tersebut, bantu mereka untuk memahami bahwa mereka sedih karena kehilangan orang atau hewan yang sangat disayanginya, atau mereka cemas mengenai kehidupannya kelak," papar Bachrach. Kemudian bantu mereka untuk menyadari bahwa masih banyak yang dapat disyukuri.

Usia 3 tahun pertama: Walaupun anak bisa terkena dampak dari kematian di sekitarnya, namun anak belum paham benar. Oleh sebab itu, bagaimana reaksi lingkungan, terutama dari orang-orang yang dekat dan yang mengasuhnya yang akan sangat mempengaruhi mereka. "Bila yang mengasuh atau orang yang dekat dengannya sangat terpukul oleh kematian tersebut, anak akan mengalami gangguan emosional walaupun tidak sepenuhnya memahami kematian itu sendiri," jelas Evita.

Usia 3-6 tahun: anak mulai menyadari adanya kematian, namun mereka belum menyadari bahwa kematian itu bersifat permanen. Mereka menganggap bahwa kematian hanyalah sementara, maka tidak heran bila mereka seringkali menganggap orang yang meninggal bisa kembali lagi satu saat. Anak-anak usia ini menganggap orang yang meninggal masih mengalami apa yang dialami orang hidup, oleh karena itu mereka seringkali cemas bahwa orang yang dikubur itu akan kedinginan atau lapar.

Usia 6-9 tahun: masih menganggap kematian itu sementara sifatnya. Dan karena kemampuan kognitif yang masih terbatas, pemahamannya mengenai sebab-sebab kematian sering tidak logis. Misal, karena sering mengatakan bila anak nakal ibunya akan meninggal, maka ia mengira ibunya meninggal karena ia nakal. Ini akan menimbulkan perasaan bersalah pada anak. "Pada usia ini kematian seringkali belum bersifat personal, anak paham akan adanya kematian, namun mereka tidak sadar bahwa kematian juga bisa terjadi padanya," papar Evita.

Usia 9-10 tahun sampai remaja: anak mulai benar-benar memahami bahwa kematian tidak bisa dihindari, semua makhluk hidup akan meninggal dan ia pun akan meninggal suatu waktu.

Perlukah anak hadir di upacara pemakaman?
Bachrach mengatakan, pada usia 6-7 tahun, orangtua bisa mengajak anak menghadiri upacara pemakaman. Kebanyakan orangtua takut mengajak anak ke upacara pemakaman dengan alasan anak akan merasa sedih, takut bahkan trauma. Sebaiknya tetap libatkan anak di acara pemakaman, berikan mereka waktu secara privat untuk melihat terkahir kali orang yang mereka cintai.

Berikan penjelasan mengenai situasi saat upacara pemakaman pada anak, tanyakan pula bagaimana perasaannya. Anak perlu tahu, upacara tersebut akan berlangsung dengan mengharukan. Jika anak tak ingin ikut, jangan paksakan. Anak bisa lakukan hal-hal untuk mengenang orang yang mereka sayangi, misalnya menggambar kenangan kesukaannya, membuat album foto, dan melakukan hal yang istimewa untuk mengenang seseorang dengan membuat masakan favorit atau menyanyikan lagu kesukaan orang tersebut. “Dalam kematian, banyak hikmah yang bisa dipetik, ini merupakan kesempatan orangtua-anak untuk berbagi dan saling terikat. Ceritakan hal-hal baik dari orang yang meninggal bersama si kecil,” papar Bachrach.

Bagaimana seseorang menghadapi kematian tentu saja bersifat personal dan tergantung pada keadaan, begitu juga pada anak. Menghadapi kematian bukanlah sesuatu yang nyaman dan mudah, bahkan orang dewasa pun merasakan hal yang sama. Untuk menghadapinya, anak butuh bantuan orang-orang dewasa di sekitarnya. Elly Risma Musa MSi memberikan tips membantu anak menghadapi saat-saat kehilangan orang yang mereka sayangi:

a.Jangan menasehati anak dengan mengatakan ‘sabar ya’ karena tak bisa dipungkiri ini merupakan masa-masa yang sulit dihadapi termasuk oleh anak. Selain itu, Anda tidak tahu pasti apa yang dipikirkan dan bagaimana perasaan anak saat itu.
b.Jangan berdusta dengan mengatakan nenek akan ke surga. Sebaiknya berikan ucapan belasungkawa berupa doa.
c.Menamai perasaan anak terutama pada anak usia dini dengan mengatakan ‘Mama tahu kamu sedih karena ditinggalkan’ dan semacamnya.
d.Anda tak harus berkomunikasi melalui bahasa verbal, tapi juga bahasa tubuh dengan sentuhan atau pelukan yang hangat akan lebih membantu si kecil.

Sumber: Majalah Inspire Kids

Wednesday, September 03, 2008

Tugas Mba Ifa

Masih berhubungan dengan PR Bahasa Indonesia lagi ...
Kali ini mba Ifa menulis tugas-tugas yang telah dilakukan di rumah. Umi nggak ngajarin lho...Ini asli ditulis sendiri sama mba Ifa seperti biasa dengan huruf bersambung.
Isinya sbb :
1. Membantu umi memasak cilok, sayur, opor
2. Membantu abi merapikan kamar
3. Membantu embak nyuci piring
4. Melindungi adik ketika terjadi apa-apa
5. Saya pernah memasaki makanan untuk orangtua
6. Saya pernah mengepel lantai yang berserakan sampah



Puisi Karya Mba Ifa

Barusan baca puisi hasil karya Ifa di buku tugas Bahasa Indonesia nya. Hi..hi....Umi salin di sini ya .... Kalo Aslinya sih ditulis pakai huruf bersambung.

----------------------------------------------------------
UMI DAN ABI

umi kau sangat baik sekali
sudah ngajak jalan-jalan ke mall

abi kau baik sekali sudah membelikan
nasi padang dan jus alpokat untukku

-----------------------------------------------------------

he...he... pinter ya mba Ifa bikin puisinya :D
abi nya nggak nyangka kalo perkara beliin nasi padang sama jus alpokat ternyata bisa jadi bahan puisi :D

note: nasi padang n jus alpokat di warung padang dekat rumah tuh makanan favoritnya si kakak.



Monday, August 04, 2008

Hati-hati dengan mulut kita

Ahad, 15 Maret 2008 - Ba'da Isya

Oiya, ada cerita unik sepulang dari DT. Ceritanya dalam perjalanan ke hotel, kami mampir nyari HP GSM di BEC. Pas kebetulan ada promosi SE, setiap pembelian di outlet tertentu dapat lucky draw yang diambil di standnya SE. Setelah muter-muter akhirnya pilihan jatuh pada salah satu outlet. Kata yang jaga, struk pembelian dituker aja di stand SE untuk dapat Lucky drawnya. Setelah nulis nama dan jenis HP yang dibeli, aku antri ambil lintingan. Dua orang di depanku semuanya mesti puas dengan haadiah kantung hp. Lha sekarang giliranku . Hem....Apa ya isinya ..... eng...ing..eng....setelah sedotan dibuka dan dilhat isi di dalam lintingan, ternyata aku dapat voucher belanja di Carrefour sebesar 200 rb. Alhamdulillah ..... Seumur-umur ikutan gituan, paling banter aku cuma dapet handuk or mangkuk cantik. Trus.....trus.....si mbak SPG nya yang cantik itu minta struk belanjanya buat bukti nuker voucher ntu .... Setelah dilihat-lihat dengan seksama, si mbak nya kelihatan bingung.... waktu ditanya kenapa, ternyata eh ternyata toko tempat aku beli itu tidak termasuk yang ikut program itu..... Oalah...padahal tadi mas-mas yang jaga toko bilang bisa .... Trus si mbak SPG ini memperlihatkan daftar toko yang bermitra, dan emang toko itu nggak masuk. Ya sudahlah mbak, belum rejeki saya...... :D . Tapi...berhubung mbanya nggak enak hati sama aku, lalu dia kasih ganti T-Shirt . Alhamdulillah ....
Di jalan suami mengingatkan aku tentang kata-kataku beberapa waktu lalu ketika aku bermasalah dengan pihak Carefour Semarang, aku sempat bilang ke CS nya kalau pelayanannnya kayak gini, aku nggak pengin datang lagi ke C4. Walah.....lha mulane voucherku melayang .....:D
Lah....belum di tanah suci saja, apa yang kita ucapkan udah jadi kenyataan .... apalagi di sana ya .... :)

Wednesday, June 18, 2008

Puisi Bunda (1)

Dari awal kami sepenuhnya faham

bahwa anak kami adalah titipan-Nya

Tiada kuasa bagi kami untuk menentang Kuasa-Nya

Pun ketika Dia memilih kami untuk mengasuh engkau anakku

Sejuta laksa tetap terukir di hati

Betapapun tak mudah menggapainya

Hanya doa dan harapan tak pernah putus terpanjatkan

Kepada-Nya kami berserah


Kamus Istilah Special Needs Children

Buat orang tua atau siapa saja yang mencari istilah-istilah yang terkait dengan terapi pada anak berkebutuhan khusus, silahkan jalan jalan ke : http://www.infoterapi.com/kamus.asp
Cukup lengkap untuk mengetahui deskripsi awal. Untuk deskripsi selengkapnya bisa ke wikipedia or sejenisnya. Semoga membantu ya.

Perlukah Terapi Sensori Integrasi Untuk Anak Saya

Seperti biasanya, kalau nemu artikel menarik, bunda copy disini aja ya. Jadi kapan saja butuh panduan dari artikel ini, nggak usah tanya-tanya ke om google terus. Bunda nemunya dii : cyberwomen[dot]cbn[dot]net


Perlukah Terapi Sensori Integrasi Untuk Anak Saya

Mother And Baby Wed, 26 Jun 2002 13:35:00 WIB

Nirmala,06/IV/Juni 2002

Pahamkah Anda mempunyai lebih dari lima indra? Selain mata hidung, lidah, telinga, serta kulit sebagai indra yang merespon rangsangan dari luar tubuh (misalnya berupa, sinar, bau-bauan, rasa makan suara dan sensasi kasar-halus dan sebagainya) Sebenarnya sejak lahir manusia dilengkapi dengan indera dekat yang bertugas menerima rangsangan yang datangnya dari dalam tubuh sendiri. Dalam buku The Out of Sync Child, Carol Stock Kranowitz, MA. dari Bethesd-Maryland, menjelaskan indera dekat kita itu adalah:

Indera Vestibular:
Indera ini terletak dalam telinga bagian dalam. Lewat reseptor ini kita kana diberitahu bagaimana posisi kita diatas permukaan bumi ini. Apakah kita sedang bergerak atau diam;seandainya bergerak, kearah mana gerakan itu, berapa kecepatanya dan sebagainya.

Indera Proprioceptive
Berasal dari bahasa latin, Proprio yang berarti milik sendiri, karena reseptor yang terdapat dalam otot ini, maka persendian dan jaringan ini ini akan menginformasikan ke otak perihal posisi badan dan gerakan yang dikerjakan, termasuk juga kekuatan.

Indera Tactile:
Sistem reseptor yang terdapat pada kulit disekujur tubuh ini berperan paling besar dalam menentykan kondisi fisik dan mental setiap individu. Setiap orang sejak bayi dan seterusnya selalu membutuhkan rangsangan tactile untuk tetap bisa beradaptasi dan berfungsu secara normal dalam lingkungan alam semesta. Lewat indera ini otak akan diberi tahu tentang rasa makanan enak, nyeri, panas-dingin, kasar halus, tekanan, getaran maupun gerakan.

Menurut A, Jean Ayres, Ph.D seorang ahli terapi okupasi Amerika Serikat yang selanjutnya dikenal sebagai penemu sensori integrasi pada tahun 1970-an. Seperti yang dikutip Carol Stock Kranowitz, MA. menjelaskan bahwa indera dekat, yaitu vestibular-taktile, dalam perkembangannya anak mengalami pematangan lebih dulu dibanding panc indera. Jadi indera dekat ini sifatnya lebih mendasar, fundamental. Bila indera dekat ini bisa berfungsi secara otomatis dan efisien, maka dalam perkembangannya seorang anak akan memiliki penglihatan, pendengaran, perhatian serta mampu beradaptasi secara baik dengan dunia sekitarnya.

Setiap detik otak menerima informasi dari berbagai reseptor tubuh; jumlahnya mencapai ribuan, bahkan jutaan. Untuk bisa merespon rangsangan ini secara berarti dibutuhkan otak yang handal, artinya mampu menerima rangsangan, mengolah, memilih rangsangan yang boleh diacuhkan dan boleh diabaikan. Proses ini diakhiri dengan tindakan respon disertai evaluasi apakah respon ini sudah dilakukan dengan sempurna. Coba Anda bayangkan, proses ini berlangsung sangat cepat dan seolah otomatis dalam sistem indera kita.

Rangkain proses menerima, mengolah dan selanjutnya memberi respon inilah yang disebut dengan sensor integrasi.

Anak mengalami disfungsi integrasi?

Otak yang memiliki sensor integrasi yang efisien tak akan sulit menerima, mengolah dan merespon rangsangan yang masuk ke otak. Otak akan akan selalu mencari rangsangan atau sensasi yang diperlukan untuk dapat berkembang.

Saat bayi baru lahir, dia baru menerima rangsangan dari indera terdekatnya yaitu indera vestibular-proprioseptive-taktile. Dari situlah bayi merasakan kalau tubuhnya diangkat atau diayun. Lewat indera tactile bayi bisa merasa nyaman saat dipeluk atau saat ia mengisap susu ibunya; baru kemudian bayi mendapat informasi mengenai wajah, benda-benda sekitarnya melalui penglihatan. Dengan kondisi otak yang normal, bayi akan berkembang terus untuk mendapatkan sensasi pada indera vestibular dan proprioseptive yang lebih banyak.

Lewat proses ini bayi belajar menggerakkan anggota tubuhnya; dia mulai berguling, merayap dan merangkak. Bayi juga mulai mencari-cari suara yang memanggilnya;dia mulai belajar bersuara, belajar berkomunikasi secara verbal (berbicara), membedakan bentuk, warna serta ukuran. Melalui integrasi gerakannya anak mulai mampu menyusun balok, meronce, menggunting, lalu menulis. Anak juga selanjutnya juga bisa berlari, melompat, memanjat, naik sepeda, yang semua itu meliputi kemampuan koordinasi gerak, keseimbangan tubuh serta perencanaan gerakan.

Anak serasa bermain
Dalam terapi sensori integrasi. Pada tahap awal seorang terapis akan melihat, mengevaluasi problem sensori yang dialami setiap anak. Selanjutnya secara individual akan dibuatkan menu terapi sesuai dengan kebutuhan anak. Nah, memasuki sebuah ruangan terapi SI seolah Anda memasuki arena bermain.

Disitu tersedia berbagai peralatan bermain yang semuanya sudah didesain secara khusus dengan fungsi, bentuk, bahan warna yang sudah memenuhi standart tertentu untuk mengasah sensori integrasi. Seperti yang terlihat diklinik Efrata dibilangan Kepak Duri, Jakarta Barat. Dalam ruang seluas sekitar 75 meter persegi itu tersedia kolam bola, balok-balok titian berbagai bentuk. beberapa ayunan, trampolin, titian keseimbangan, tangga, balok-balok panjat, bentangan kain lycra, alat luncur/scoter, matras untuk menghindari benturan, bantal-bantal besar yang berfungsi merangsang kontrol gerakan anak.Ruang ini dilengkapi dengan taman yang dilengkapi dengan taman yang dirancang dengan permukaan gradasi dari halus sampai kasar untuk merangsang sensori tactile telapak kaki.

Selain membawa si anak terapi SI yang dilakukan di klinik dengan ajdwal yang sudah teratur, semestinya juga para orangtua juga bisa melanjutkan ataupun menyelenggarakan terapi tersebut di rumah, meski dengan peralatan yang sederhana bahkan dengan modifikasi sendiri. Kreatifitas orangtua tentu sangat diharapkan dengan dalam membentuk tim terapis yang kompak di rumah untuk membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus mereka.

Ini dituturkan oleh Dra. Irma Kuntohadiprojo, Pimpinan Sekolah Pribadi Mandiri, sebuah sekolah khusus untuk remaja yang banyak menerapkan sistem terapi sensori integrasi dalam aktivitas sehari-hari. Misalnya: sebelum memulai kegiatan belajar di dalam kelas, selama 10 menit murid-murid melakukan relaksasi dengan cara berbaring dengan posisi tertentu (tengkurap sambil kepala dihadapkan secara bergantian ke dua arah) di atas matras. Ini dilakukan untuk melatih konsentrasi dan melepas stres. Selama 10 menit selanjutnya murid-murid melakukan senam otak (Brain Gym) yang dalam 3 minggu sekali gerakannya akan diganti.

Dengan demikian diharapkan anak-anak lebih siap belajar, otaknya lebih siap menerima rangsangan, ujar Irma. Dalam mata ajaran ketrampilan memasak misalnya, dijadwalkan membuat kue dalam bentuk bulat. Disitulah ajang mengasah sensori tactile pada telapak tangan, motor planning (dengan memutar-mutar kedua tangan secara seimbang dengan tekanan tertentu), dan dalam suasana yang menyenangkan bersama teman-teman.

Ada yang usul pakai sendok makan, agar tangannya tak kotor, ada yang sebentar-sebentar cuci tangan karena merasa tak bisa belepotan, namun guru pengawas yang juga menjadi teman bermain akan memintanya menggunakan kedua telapak tangan. Disitu bisa terlihat bagaimana kemampuan sensori anak, ada yang berhasil membentuk bulatan bagus, ada yang gepeng tak bisa bulat, bahkan ada yang sama sekali tak bisa terbentuk bulatan, lanjut Irma.

Beberapa Contoh aktivitas untuk melatih sensori anak di rumah

  1. Main tebak huruf dan angka
    Dengan menggunkaan jari telunjuk, coba buatlah bentuk angka atau huruf di punggung anak. Tentu saja , huruf ataupun angka tersebut sudah dikenal oleh anak Anda sebelumnya. Minta anak Anda menebak bentuk yang Anda buat. Latihan ini baik untuk merangsang tactile pada kulit punggung.

  2. Tangkap teman
    Masukkan beberapa mainan anak ke dalam kotak bekas ataupun ember plastik. Pilih beberapa benda yang variatif, misalnya kelereng, mobil-mobilan, tali sepatu, sikat gigi, boneka kain, bintang-bintang plastik, dadu. Mintalah anak meraba dan memilih satu benda tanpa ia harus melihatnya. Kemudian minta dia menebak, kira-kira, siapa teman yang dia pegang. Latihan ini baik untuk merangsang integrasi tactile jari-jari.

  3. Berayun asyik
    Ambil selimut tebal yang masih kuat. Pegang masing-masing ujungnya oleh 2 orang dewasa, lalu mintalah anak Anda naik. Selanjutnya perlahan-lahan angkat selimut tersebut dan mulailah diayun. Mulailah dengan ayunan perlahan. Latihan ini baik untuk merangsang integrasi vestibular.

  4. Porter jagoan
    Biasakanlah anak Anda mengangkut keranjang cucian (dicoba dengan beban yang tidak terlalu berat) misalnya memindahkannya dari kamar mandi ke tempat cuci.. Atau cobalah melatihaknya dengan membawa barang belanjaan ANda dari supermarket. Pilih barang-barang yang tidak mudah pecah. Bisa juga setiap pagi dilatih untuk menyandang sendiri rngsels ekolah di punggungnya. Latihan ini baik untuk integrasi sensori proprioseptive.

  5. Kursi T
    Mintalah bantuan pada tukang kayu (atau mau mencoba sendiri) untuk emmbuat kursi T. Yaitu dua balok kayu berukuran 40 X 15 X 10 cm. Pasang dua balok tersebut. Bisakanlah anak duduk secara teratur misalnya selama 10 menit diatas huruf T ini. Sebagai huruf T, rekatkan dengan kuat dengan memakunya. Latihan sesering dan selama mungkin. Dengan dududk diatas kursi T, anak akan dilatih kepekaanya pada keseimbangan dan kemampuanya memperhatikan sesuatu.


Contoh disfungsi Sensori Integrasi
  • Anak tampak malas bergerak

  • Keseimbangan tubuh kurang baik, sering jatuh

  • Anak sering berjalan jinjit, berputar-putar atau meloncat-loncat

  • Sering terbalik dalam menulis atau membaca huruf atau angka (misalnya huruf b atau d, angka 6 atau 9)

  • Sering memukul meja atau tembok

  • Bila menulis tekananya terlalu kuat

  • Suka menggigit atau memainkan sesuatu

  • Sulit menerima aktivitas baru

  • Menolak menginjak rumput, pasir atau kerikil

Sumber: Tabloid Ibu Anak

Monday, June 16, 2008

Craniosacral Therapy

Bunda belum tahu persis seperti apa Craniosacral therapy ini, karena belum coba. Yang sudah pernah coba pijat refleksi dan Pijat Getar Syaraf.

Bunda dapat info ini dari milis Ayo Main :

Untuk info ttg apa & bagaimana Craniosacral Therapy (CST) yg ditemukan oleh Dr. John E. Upledger itu bisa dilihat di:

http://www.upledger.com/clinic/bio_jeu.htm

http://www.adidacst.com/cranioSacral.htm

http://www.iahe.com/html/therapies/cst.jsp

http://www.craniosacraltherapy.org/CSTA_home.html

Saturday, May 24, 2008

Akhirnya Naik Juga

Judulnya mirip nama acara di Trans TV ya. :D

Akhirnya setelah ramai dengan polemik masalah kenaikan BBM, pemerintah memutuskan untuk menaikkan harga BBM sebesar rata-rata 30%-an.

Dan sebagaimana sudah diduga, tadi malam hampir semua SPBU penuh dengan antrian pembeli BBM. Termasuk saya tentunya, karena malam itu memang jatah saya untuk isi bensin, kalau tidak ingin besok paginya dorong mobil karena habis bensin.

Uniknya, antrean panjang justru terjadi di segmen sepeda motor. Apalagi di SPBU yang dekat dengan kawasan kampus…wuih….puueeennuuuuh.

Kata si narator…Cuma Ada di Indonesia….antri BBM, antri Minyak tanah, antri BLT……

Belajar dari ilmu Rafting

Ini email yang saya kirim ke teman-teman pada Mey 2006. Ketika lagi booming hobi Rafting. Hampir semua unit bikin acara outbound n rafting.

Nah, supaya kegiatan rafting ini tidak sekedar dapat capek, ada baiknya jika kita mencoba memahami hikmah yang bisa didapat dari rafting tersebut.

————————————————————————————–

Mengutip cerita Aa Gym, hari minggu kemarin, tentang ilmu Rafting/Arung Jeram.

Ketika berhadapan dengan masalah atau hambatan, kita bisa belajar dari orang yang sedang menempuh rute arung jeram.

Mengapa seorang pengarung jeram tidak menyalahkan batu yang diam menghalangi jalurnya? Atau menyalahkan arus sungai yang menderas yang mengombang-ambing perahunya?

Ya..karena dia lebih fokus kepada mencari bagaimana caranya dia bisa mengarungi sungai dan sampai kepada tujuan dengan selamat. Apapun cara dilakukannya, bakhan sampai turun ke sungai untuk menarik perahunya pun dilakoni.

Maknanya…..masing-masing rekan tentu sudah lebih pandai memahaminya.

Wednesday, May 21, 2008

Inspiring Blog

Pagi-pagi nuansa hati sedang nggak terlalu bagus. Jadi untuk menghilangkan bete aku blogwalking aja (halah..cari alasan pembenaran untuk gak belanja dan masak sebelum ke kantor )
Kemudian, ketemulah blog yang inspiring di sini . Luar biasa energi beliau, di usia yang tidak lagi sedikit, tapi tetap enerjik dan ini yang penting update & gaul
Jadi kebayang Ibu saya yang dua tahun lagi genap usia 60, tapi karena sedang gundah gulana setelah ditinggal pergi ayahanda, menjadi terlihat lebih tua dari usianya.
Kayaknya perlu ajak Ibu berkunjung ke blog itu dan beberapa blog sejenis, untuk mengembalikan semangat beliau.
Tks for bu Poppi n Bunda Nihaya untuk inspirasinya.




Thursday, May 08, 2008

Tuesday, May 06, 2008

Umi Telpon Pak Ambar dong....

Masih soal Afra. Kali ini, dia mogok sekolah. Aksi mogok sebetulnya sudah dimulai sejak hari Kamis lalu. Karena tanggal merah, dan aku libur, dia jadi nggak mau masuk sekolah. Pokoknya mau sama Umi, gitu katanya. Setelah dibujuk-bujuk, mau juga deh ke sekolah, dengan syarat pulangnya dijemput. OK, siiiplah. Ternyata waktu jam istirahat, dia minta pulang. Pakai acara nangis dan ngglosor (bhs indonesianya apaan yah ?) di lantai gitu.
Besok paginya, dia mau ke sekolah. Tapi sampai di depan kelas, olala....dia menolak masuk ke kelas. Lagi-lagi pakai nangis bombay gitu. Bu gurunya nekad juga, saya diminta meninggalkan Afra meskipun dia masih menangis meronta-ronta. Ya sudah, saya pun mundur. Sabtu-Ahad, aman karena dia libur. Tiba hari Senin, kembali dia menolak pergi ke sekolah. Segala bujuk rayu tidak juga mempan, yang akhirnya justru berujung dengan berantem sama aku. Aku pun pergi ngantar Ifa duluan, kasihan kalau telat gara-gara adiknya mogok sekolah. Akhirnya Abi turun tangan. Di pelukan Abi, Afra pun luluh. Berangkat ke sekolah pun sama Abi, sementara aku mengantar adeknya terapi.
Pulang sekolah, aku jemput Afra. Hari itu aku khusus cuti buat melunakkah hati Afra.Saya pikir, ini cuma masalah mencari perhatian. Betul saja, ketika dijemput, betapa manisnya sikap anak ini :) I'm sorry baby.
Afra tidak tahu kalau hari ini aku cuti. Jadi di perjalanan pulang, dia tanya,
Afra : Umi balik ke kantor lagi nggak ?
Aku : Kok tanya gitu kenapa yang ?
Afra : Ya nggak papa. Kalau Umi ke kantor juga gak papa. Kalo nggak ke kantor lagi juga nggak papa ( jadi ??).

Tiba-tiba dia pasang muka serius dan bilang.
Afra : Umi....coba deh Umi telpon Pak Ambar. Bilang gini, Pak..boleh nggak kalau nggak balik ke kantor, soalnya anak saya minta ditemenin. Gitu ....
(*****gubrak****. Pak Ambar tuh atasanku. Anak-anak kenal beliau, karena beberapa kali ketemu waktu aku ajak ke kantor)

Kok ya bisa-bisanya punya pikiran gitu ya ?

Jeep Yang Bukan Jeep

Anakku nomor dua, Afra, sedang giat-giatnya belajar baca. Semua yang tampak mata akan dibaca, dan kemudian dimemori. Bahkan dari hal-hak yang dibacanya itu, kadang dia suka mengotak-atiknya sendiri, meski kadang agak nyeleneh.
Kebetulan juga, si Afra ini lagi ketularan hobi sepupunya, selalu nanyain tiap jenis mobil yang dilihat di jalan.
Tadi pagi ketika berangkat sekolah, mobil di depan kami mempunyai sarung ban bertuliskan JEEP. Sontak si Afra berkesimpulan bahwa itu mobil Jeep. Padahal bukan, mobil di depan kami bukan berjenis Jeep, melainkan Sidekick. Dan ketika aku jelaskan bahwa itu mobil sidekick, bukan Jeep. Lha..dia langsung protes keras. Kata dia, "wong tulisannya aja Jeep kok, ya pasti itu mobil jeep".
Oalah nduk....nduk....yo nggak sepenuhnya salah sih. Wong tulisan Sidekicknya juga cuma secuil, kalah gede sama tulisan Jeepnya.

Ibu Memilih Untuk Sendiri

Masih ingat cerita kemarin tentang kebingungan kami tentang siapa yang akan mendampingi Ibu, setelah kakak kedua yang selama 100 hari terakhir menemani, atas perintah suaminya berencana pindah ke rumahnya sendiri. Membayangkan saat ketika Ibu mengatakan hal itu, hati ini kok nggak bisa berdamai. Betapa kami anak-anaknya ini kok nggak punya bakti ke orang tua yang cuma tinggal satu.
Sebetulnya kami berharap ibu berkenan tinggal dengan kakak ketiga, dengan catatan kami siap menyediakan PRT untuk membantu mengasuh ketiga anaknya. Sayangnya, Ibu menolak opsi ini.
Walhasil, Ibu lebih memilih untuk tinggal sendiri ditemani PRT. PR berikutnya untuk saya dan kakak, nyari PRT yang cocok untuk Ibu.
Kemarin sudah dapat anaknya. Lha mesti pakai trial dulu kan, baru tahu cocok atau nggaknya.

Monday, April 21, 2008

Cerita Perjalanan 2

Ahad, 15 Maret 2008

Sejenak terlelap setelah menyantap seporsi mi rebus pakai telor, saya terjaga, ketika kereta berhenti di stasiun Cikampek. Sudah dinihari, kesibukan para pedagang yang hendak berangkat mencari rezeki sudah dimulai. Cukup lama kereta berhenti disana, sampai kemudian kereta kembali berjalan, dan ...olala, rupanya lokomotif kereta telah berganti arah. Jadilah kami seolah-olah mundur, karena posisi kursi tidak kami ubah. Karena enggan membangunkan suami yang tidur pulas, saya membiarkan posisi kursi kami. Dan Cikampek Bandung kami tempuh dengan berjalan mundur.
Hampir jam 4 pagi ketika kereta sampai di Stasiun Bandung. Kami memutuskan untuk menunggu waktu subuh di stasiun. Dingin kota Bandung mulai terasa. Sambil menunggu mushala dibuka, kami duduk di peron stasiun. Tepat ketika azan subuh berkumandang, mushalla dibuka. Setelah shalat subuh, kami berenam, menuju hotel menumpang mobil carteran.
Sampai di hotel, kami termasuk tamu kepagian, karena seharusnya peserta baru boleh check in setelah jam 12 siang. Syukurlah kami diperbolehkan chek in lebih dini. Jadi badan ini bisa sedikit rebahan setelah menempuh 7 jam perjalanan.
Saatnya makan pagi, teringat betul 4 tahun lalu kami makan pagi di tempat yang sama, beserta dua putri kecil kami. Jadi keingat anak-anak, baru juga semalam meninggalkan mereka.
Usai makan pagi, beberapa teman mengajak jalan ke Pasar Baru. O..o..tawaran yang menarik, tapi juga berbahaya. Bisa bikin lapar mata. Jadi saya memilih untuk jalan-jalan ke DT saja. Sudah beberapa kali saya berkeinginan ke sana, selalu saja ada aral yang melintang. Jadilah saya dan suami memulai perjalanan nostalgia. Yup, naik angkot keliling Bandung, mengingatkan kami saat-saat baru nikah dulu. Saat kami menikah, suami sedang mengikuti pendidikan di Bandung. Berhubung anak kost, kemana-mana kami naik angkot. Jadi sudah nggak asing lagi dengan terminal angkot kebon kelapa. Karena waktunya hanya setengah hari, ya, tidak banyak tempat yang bisa dikunjungi, Selain Kebon Kelapa yang sudah jadi ITC, saya hanya berkunjung ke Gerlong dan ke DT. Sempat pengin makan siang di warung padang langganan dulu. Sayang, keburu hujan deras, jadi kami makan siang di warung terdekat dengan tempat pemberhentian angkot. Menunya Roti bakar, Jus Alpokat dan Indomie rebus pake telor. Ini menu favorit suami di kost-an dulu, selain nasi padang langganannya.
Sampai di DT sudah lepas dhuhur, ada kajian putri yang diisi Teh Ninih. Kami di sana sampai ba'da ashar, langsung pulang ke hotel. Di hotel, registrasi peserta, shalat Maghrib dan Isya berjamaah, lalu acara di mulai dengan Welcome Speech dan makan malam. Selanjutnya....istirahat....




Setelah Kepergian Itu

Setelah Bapak pergi, permasalahan pertama yang mengemuka adalah, siapakah diantara kami berlima yang akan tinggal untuk mendampingi Ibu. Karena selama ini, setelah adik bungsu kami melanjutkan kuliah di kota Solo, praktis Ibu dan Bapak hanya tinggal berdua saja. Memang betul, di kota kelahiran kami, masih ada dua orang kakak yang tinggal di sana. Meskipun sekota, hanya kakak nomor tiga yang hampir setiap hari mampir, at least lebih dari sekali dalam sepekan. Karena kakak nomor tiga ini yang paling sering dimintai tolong Bapak dan Ibu untuk berbagai hal. Dari mulai belanja bulanan, antar jemput Ibu ke kantor kalau Bapak sedang berhalangan, atau pun membelikan sesuatu yang dibutuhkan Bapak dan Ibu. Kebetulan beliau memang sudah menasbihkan diri sebagai Ibu Rumah Tangga sejati sejak pertama kali mengikat janji suci dengan suaminya, dan beliau ini tipe perempuan cekatan, yang terampil menyelesaikan segala urusan domestik. Jadi tak masalah dalam sehari harus menyelesaikan urusan rumah tangga sendirian dengan 2 buah hati (tanpa asisten lho) sekaligus menyelesaikan urusan yang diamanahkan Ibu Bapak.
Sedangkan kakak kedua, karena kesibukan beliau bekerja sebagai guru, disampaing aktifitas sosial kemasyarakatannya, juga kegiatan mengurus 3 buah hati, membuatnya tidak punya banyak waktu untuk mendampingi Bapak Ibu. Bapak Ibu juga sangat faham pada karakter putri keduanya ini yang lebih cekatan di luar rumah, dibandingkan di dalam rumah. Untuk urusan domestik, beliau memang tidak terlalu istimewa.
Masalahnya, kakak nomor dua ini bersuamikan seorang anak tunggal yang juga punya amanah untuk mendampingi Ibunya yang tinggal sendirian. Jadi dia harus memilih, apakah akan tinggal bersama Ibu Mertuanya, atau tinggal bersama Ibu.
Sedangkan jika kakak nomor tiga yang tinggal bersama Ibu, masalah ada di Ibu, yang merasa tidak cukup klop tinggal bersama anak-mantu-cucu yang ini.
Hingga akhirnya, karena kebesaran hati mertua beliau, kakak nomor dua ini pun boyongan ke rumah Ibu. Masalah selesai. Kami kira. Ternyata tidak. Belum juga 3 bulan Bapak pergi, mertua beliau mulai merasa kehilangan. Beliau yang tidak pernah tinggal sendirian, mulai merasa kesepian, dan mengharapkan anak semata wayang beserta istri dan anaknya, bersedia tinggal bersamanya lagi. Akhirnya, kakak pun seperti makan buah simalakama. Dan, rumah tangganya pun terasa tidak nyaman saya rasa. Ya, saya bisa memahami kondisi tersebut. Sehingga alternatif lain adalah, saya atau kakak nomor satu pindah kota ke rumah Ibu. Alternatif ini adalah yang termahal saya pikir. Kenapa ? Karena mengupayakan pindah kerja bagi PNS seperti Ipar sulung saya, atau pegawai BUMN seperti saya dan suami, tentunya tidak mudah. Selain itu kami juga harus memindahkan sekolah anak-anak, yang butuh biaya tidka sedikit. Lalu biaya boyongan, dan renovasi rumah Ibu supaya cukup ditempati keluarga saya atau kakak, yang jumlahnya kayak rombongan sirkus. Bahkan jika kakak saya yang bersedia pindah, berarti dia harus juga merelakan diri untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya sekarang, yang tentunya berarti kehilangan separuh roda nafkah keluarganya. Meskipun kami yakin bahwa rezeki datangnya dari Allah, kami toh tetap harus berhitung, berapa besar dana yang dibutuhkan, juga berhitung, dari mana dana tersebut bisa didapat.
Ya Allah....kami mohon kepada-Mu, tunjukkanlah kami jalan keluar untuk permasalahan ini. Amin.




Wednesday, April 16, 2008

Cerita Perjalanan 1

Sabtu, 14 Maret 2008
Pagi, Ibu, kakak dan keponakan, Bapak & Ibu mertua, sudah datang ke rumah. Mereka yang rencananya akan menyertai keberangkatan kami ke Bandung, tempat manasik berlangsung sebelum kami berangkat ke tanah suci. Persiapan-persiapan dan packing sudah selesai. Tak urung, masih ada saja hal-hal kecil yang terlewatkan. Alhamdulillah, sebelum ashar, semua sudah selesai, tinggal menunggu saat-saat keberangkatan. Rencananya, kami berangkat menuju Bandung menggunakan KA.Harina jam 21.00. Suami masih di kantor menyelesaikan beberapa kewajiban yang mesti dituntaskan.
Sampai menjelang maghrib, suami belum juga pulang. Saya mulai gelisah. Ini awal perjalanan jauh, dan beliau belum bersiap, meskipun untuk perbekalannya, semua sudah saya urus. Rupanya kepatuhan saya pada suami hendak diuji. Beruntung Ibu dan kakak berkali-kali mengingatkan saya untuk bersabar, menahan amarah dan tidak mengeluh. Belum lagi perdebatan kami, tentang bagaimana kami akan menuju stasiun, siapa yang akan membawa pulang mobil dan bagaimana keluarga akan pulang, mengingat tidak satupun keluarga yang mengantar bisa menyetir, sedangkan suami sampai di rumah dengan jeda waktu keberangkatan yang sudah cukup mendebarkan. Saya yang biasanya keras dengan pendapat saya, apalagi jika merasa bahwa pendapat saya lebih logis, kali ini mulai berusaha keras untuk mematuhi apapun keputusan suami, sekalipun bertentangan dengan pendapat pribadi. Bukan hal mudah, mengingat selama ini saya termasuk lebih sering berpihak pada pendapat pribadi. Namun mengingat perjalanan ini adalah perjalanan ibadah, dimana saya tidak ingin ada perilaku berbantah-bantahan, sayapun lebih banyak diam dan menurut, sambil terus berdoa dalam hati, agar semoga kepatuhan kepada suami sebagai bagian dari ibadah saya pada Allah SWT mendapatkan Ridho-Nya, dan Dia memberikan kemudahan dalam perjalanan kami.
Alhamdulillah, kami sampai di stasiun sekitar 30 menit sebelum kereta berangkat. Suami menitipkan mobil ke kantor yang berjarak sekitar 3 km dari stasiun, dan rencananya akan ke stasiun menggunakan becak. Sedangkan keluarga akan pulang ke rumah menggunakan taksi yang cukup banyak mangkal di depan stasiun. Sungguh, saya tak membayangkan akankah waktu 30 menit cukup untuk membawa suami sampai di stasiun sebelum kereta berangkat. Apalagi jalan dari stasiun ke kantor memutar, karena jalan yang searah. Saya sudah hampir menangis ketika sudah lebih dari 15 menit, suami belum juga tampak. Emosi saya pun sudah mulai naik. Ibu dan kakak berulangkali mengingatkan untuk bersabar, dan pasrah pada Allah. Kalaupun ketinggalan kereta, Insya Allah akan ada jalan untuk tetap sampai di Bandung keesokan harinya. Berulangkali pula Ibu dan kakak mengingatkan untuk tetap patuh pada suami selama perjalanan sampai ke tanah suci. Emosi saya mulai mereda, dan sesaat kemudian suami pun tampak di pintu masuk. Rupanya, Allah memudahkan perjalanannya, karena ketika hendak menuju stasiun , beliau bertemu dengan seorang teman yang dengan baik hati berkenan mengantar ke stasiun menggunakan sepeda motor, yang tentunya jauh lebih cepat dibandingkan rencana semula menggunakan becak. Alhamdulillah, Ya Allah, belum juga berangkat ke tanah suci, telah Kau tunjukkan kepadaku, betapa ketika kita patuh pada aturan-Nya, maka Dia akan memudahkan urusan kita. Inilah pelajaran berharga buat saya, yang terus saya pegang.
Sepuluh menit sebelum kereta berangkat, saya dan suami berpamitan. Ada keharuan yang sangat mendalam ketika saya berpamitan pada ibunda. Teringat pada Cita-cita ayahanda untuk ke tanah suci yang belum terlaksanakan sampai akhir hayatnya. Teringat bahwa beliaulah yang sangat bersemangat mendukung ketika proses seleksi berlangsung. Bahkan beliau yang berjanji akan menemani anak-anak ketika kami ke tanah suci, karena seharusnya, mulai 1 Maret lalu, beliau memasuki masa purna tugas.
Tepat pukul 21.00, kereta berangkat. Dari jendela, kami lambaikan tangan kepada keluarga yang mengantar. Ada kesedihan karena harus berpisah, bahkan terbayang, andai saja Bapak hadir di sana, melambaikan tangan kepada kami. Namun kesedihan ini terobati dengan keyakinan bahwa perjalanan ini adalah ibadah, dan perpisahan ini adalah bagian dari ujian dari ibadah, maka kami mohon kekuatan pada Allah untuk menjalaninya.
Di dalam kereta, saya nyaris tak bisa memejamkan mata. Saya ingin betul-betul menikmati perjalanan ini. Sambil melantunkan dzikir syukur kepada-Nya, tak terasa perjalanan telah sampai di stasiun Pekalongan, kota kecil tempat saya lahir dan dibesarkan. Kenangan akan ayahanda kembali berkelebat. Tangis pun tak lagi bisa terbendung. Ya Allah, ampunilah dosanya dan terimalah semua amal baiknya sebagai penghapus dosa, dan mudahkanlah jalannya menuju Surga-Mu. Amin..